Sosok
pendiam Adit dipandang aneh oleh teman-temannya, sosok Adit yang dahulu dikenal
ceria, supel dan ramah kini berubah menjadi sosok yang pemurung dan juga
pemarah. Tapi sosok Adit yang seperti itu tidak mengubah tekad Dara yang sejak
SMP menyukainya. Dara selalu berusaha untuk menarik perhatian Adit walau
menurut teman-temannya itu percuma saja karena karakter Adit yang cuek dan juga
pemarah. Sekalinya Dara berbicara pada Adit saat itu pula Adit membentak Dara
serta pergi begitu saja. Tapi apa daya, kalau sudah cinta apa mau dikata.
Perjuangan Dara yang bertahun-tahun mencari perhatian Adit pun kini membuahkan
hasil, sedikit demi sedikit Dara dan Adit dapat saling berbicara walau itu
hanya saling menyapa ataupun menanyakan tugas. Kedekatan mereka berawal dari
Pak Jono yang notabene adalah guru sejarah yang dikenal killer oleh siswanya sedang
memasangkan siswa siswinya dalam sebuah tugas kelompok, awalnya Adit menolak untuk
dipasangkan dengan Dara tetapi akhirnya terpaksa menuruti kemauan Pak Jono
setelah mengungkit masalah Adit yang menjadi langganan guru BP, Adit merasa
malas untuk berurusan dengan guru BP lagi hanya karena masalah melawan guru
killer yang satu ini.
Kedekatan
mereka kian lama kian bertambah hingga pada suatu hari Dara mendengar
gosip-gosip miring tentang Adit. “Kamu tau nggak, aku denger-denger nih Adit
itu anak broken home lohh...” kata Siska. “Hah? Adit? Radityo Kusuma itu?”
tanya Desi. “Iya... itu! Dara kamu tau kan masalah ini? akhir-akhir ini kamu
dekat dengan dia kan? Aku yakin kamu pasti tahu” celoteh Siska. Dara menjawab
dengan cuek “Aku tidak tahu”, “Yang benar saja, tidak mungkin kamu tidak tahu.
Kabar ini sudah menyebar di kalangan anak-anak satu sekolah” kata Siska. “Ya..
dan aku dengar Adit itu adalah seorang.... hmm... pemakai” kata Susi. “Hah?
APA?” kata mereka serempak. “TIDAK MUNGKIN!!” bentak Dara sambil menggebrak
meja. Dara berlari menuju halaman sekolah dimana banyak pepohonan rindang dan
bangku-bangku santai, tempat itu merupakan tempat favorit Dara ketika ingin
menyendiri. Lama Dara melamun serta kembali memikirkan perkataan teman-temannya
tadi. “Dara!” teriak Dewi sahabat Dara. “Kamu itu main kabur aja, aku lari-lari
ngejar dan manggil-manggil kamu tapi kamu nggak denger, mana larinya kenceng banget,
ada apa sih?” tanya Dewi. “Biasa.... ratu gosip kelas kita mulai menunjukkan
aksinya” kata Dara lesu. “Siska? Gosipin apa lagi dia?” tanya Dewi ingin tahu.
“Ahh aku malas membahas itu. Katanya kamu mau ketemu Pak Rahmat mau nyusul
ulangan? Cepet sana! Tadi aku liat dia baru dateng tuh. Guru kok ya datengnya
siang, siswa datang siang kena sanksi, guru kena sanksi juga nggak ya kalau
telat?” kata Dara jutek. “Husshhh ngomongnya..... iya-iya aku ke ruang guru
dulu ya” kata Dewi sambil melangkah pergi. “Hati-hati yaa... titip gorengan Pak
Husin kesukaanku yaaa...” teriak Dara, Dewi hanya mengacungkan jempolnya
pertanda menerima permintaan Dara. Setelah itu Dara kembali termenung
memikirkan perkataan Siska si ratu gosip mengenai Adit. Beberapa saat kemudian,
“Aduh.. pengen pipis...” kata Dara sambil bangun dari duduknya dan berlari
menuju toilet terdekat.
Toilet
yang kini digunakan Dara bukanlah toilet yang biasa digunakan siswa siswi
sekolahnya tetapi toilet yang memang jarang digunakan para siswa karena
letaknya yang cukup jauh dari kelas mereka yang baru saja dibangun. Ketika itu
terdengarlah ribut-ribut kecil yang tidak biasanya, seperti erangan seseorang
yang samar-samar serta suara pintu dan dinding yang dipukul secara bergantian.
Dengan takut Dara segera pergi tanpa
dihiraukannya suara itu, dan segera berlari menuju kantin untuk membeli sebotol
air mineral. Dara yang masih penasaran dan juga takut mencoba untuk kembali
melewati toilet yang digunakannya tadi, di dengarkannya dengan seksama suara
sekecil apapun yang keluar dari dalam toilet itu. Dengan berjingkat-jingkat Dara
mendekati toilet yang sekiranya menjadi sumber suara itu, perlahan ia mengetuk
pintu toilet, “A..ada orang didalam?” tanya Dara lembut, tetapi tidak ada yang
menjawab. Setelah diketuk lagi tetap tak ada jawaban tiba-tiba Dara mendengar seperti ada sesuatu
yang jatuh dari dalam toilet tersebut. “Hei.. siapa didalam? Aku buka ya pintu
nya? Kau tidak apa-apa?” tanya Dara lagi tetapi tetap tak ada jawaban. “Aku
buka ya” perlahan Dara membuka pintu toilet yang memang sepertinya tidak
dikunci. Dengan kaget ia melihat Adit yang tergeletak hampir tak sadarkan diri
di lantai. “Adit.. kamu kenapa?” tanya Dara dengan khawatir, “Kamu kenapa?
Jawab dong” tanya Dara hampir menangis. “Ssttttt... kecilin suara lo, tutup
pintunya. Cepetan!” kata Adit dengan lemah. Dara hanya bisa mengikuti apa yang
disuruh oleh Adit tanpa berpikir panjang lagi. Udara pengap dan aroma khas toilet
yang menyengat ditahannya demi mendapat keterangan pasti dari Adit. Adit segera
memegang tangan Dara lama dan menatap Dara dengan dalam, jantung Dara yang
berdegup mengalahkan suara Adit yang keluar dari mulutnya. Dara hanya bisa
terpaku ketika Adit mulai mendekati wajah Dara, dan Dara hanya bisa memejamkan
matanya. “Woy! Lo denger nggak sih? Pake merem segala. Gue bilang, gue minta
air mineral lo ya.” Ucap Adit lirih dan serak. Tanpa sepersetujuan Dara, Adit
segera merampas air mineral di tangan Dara dan segera meneguknya habis. Dara
yang salah paham hanya bisa melihat dan terdiam. “Thanks” kata Adit dan memejamkan
matanya lagi. Melihat Adit yang terdiam membuat Dara ikut terdiam, ia mulai
berpikir mengapa badan Adit gemetar seperti ini? Mengapa wajahnya pucat?
Pikiran-pikiran nakal mulai menghinggapi otak Dara. “Dit.. kamu kenapa? Kamu
belum jawab pertanyaanku dari tadi” tanya Dara memecah keheningan. “Bukannya lo
udah tahu? Anak-anak satu sekolah juga udah pada ngomongin gue” ucap Adit lirih
masih tetap memejamkan matanya, “Jadi lo bener...” ucap Dara terpotong. “Pemakai?
Iya... tapi gue sedang tahap penyembuhan. Udah ah lo mau ngobrol di WC gini?
Sempit-sempitan sama gue, pengap pula” ucap Adit sambil berusaha bangun dari posisinya
semula dengan dibantu Dara. “Gue keluar duluan ya. Nanti hitung 3 menit lo baru
keluar dari sini. Bye”. Adit segera
keluar dari toilet dan 3 menit kemudian Dara pun menyusul.
Hampir
satu sekolah telah dikeliling Dara untuk menemukan Adit dan akhirnya Dara
menemukan Adit duduk dibawah pohon sambil meminum air mineral. “Sekarang kamu
harus cerita, kenapa kamu bisa kayak tadi?” ucap Dara dengan nada sedikit
memaksa. Adit diam, Dara pun ikut diam, Dara hanya bisa menunggu sampai Adit
berbicara. Tak lama kemudian, “Lo tahu sakaw kan? Itu adalah keadaan dimana
pemakai narkoba mulai nagih atau udah mulai pengen makek lagi, ya kayak gitu
lah gue tadi, walau gue berusaha untuk menahan semua itu tapi tubuh gue nggak
bisa, itu bener-bener nyiksa banget” ucap adit jujur. “Lalu kenapa kamu nyobak
make tu barang haram? Gimana cerita awalnya?” tanya Dara. Lama Adit terdiam,
barulah ia mulai angkat bicara. “Menurut lo, gue kayak begini karena pengen
coba-coba dan masalah keluarga gue? Iya... keluarga gue emang rusak, bokap suka
mukulin bunda kalau ada saja yang tidak sesuai dengan kehendaknya, gue suka
sedih lihat bunda yang nangis tiap malem gara-gara bokap gue, wajah bunda yang
cantik dan putih itu pun jadi sering terlihat bengkak dan biru-biru akibat
memar setelah di tonjok bokap gue. Karena gue marah dengan prilaku bokap gue,
gue samperin bokap gue ke tempat biasa dia nongkrong sama kawan-kawannya.
Setelah sampai disana gue dipanggil bokap gue, disuruh duduk dan ikut nimbrung
tapi gue nolak karena tujuan gue kesana buat marah-marah sama bokap gue, tapi
tolakan gue itu malah buat bokap dan temen-temennya itu marah dan balik
nyakitin gue, gue dipukulih habis-habisan, tangan gue diiket dan mulut gue
dibekap. Lalu bokap gue ngerayu gue dan nusukkin itu jarum suntik laknat
ketangan gue, memang awalnya rasanya enak. Karena itu gue jadi ketagihan make
tu barang haram, sebulan, dua bulan, tiga bulan gue tetep keenakan make tu
barang. Uang jajan gue dari bunda gue pake beli tu barang, tiap minggu uang
jajan gue selalu nambah. Pernah suatu hari uang jajan gue nggak ditambah sama
bunda, gue marah banget saat itu dan tanpa sadar mukul bunda. Gue sendiri kaget
dan langsung masuk kamar. Sejak saat itu gue mulai berpikir, bunda gue yang gue
sayangin malah gue sakitin, apa bedanya gue sama bokap saat itu? Uang hasil
kerja keras bunda gue habisin buat beli tu barang haram. Saat itu gue marah
banget sama bokap, bokap yang buat gue kayak monster seperti sekarang, bokap
yang buat bunda sedih, bokap macam apa dia sebenarnya? Tega menjerumuskan
anaknya kelubang neraka seperti ini, dan tega menyengsarakan anak dan istrinya,
dan sekarang gue nggak tahu bokap ada dimana, dia kabur dikejar-kejar BNN dan
polisi. Mungkin sekarang dia lagi seneng-seneng sama cewek-cewek genit itu atau
mungkin dia lagi sengsara gara-gara jadi buronan, gue heran. Bokap macam apa
dia? Dia yang buat gue kayak gini, dia! Dia yang ngerusak masa depan anaknya
sendiri! Karena rasa sayang gue sama bunda lebih besar dari rasa sakit gue
ketika sakaw, gue buat bunda sedih, gue buat bunda kecewa punya anak kayak gue,
gue ceritain kalau gue make narkoba dan dia shock, dia akhirnya masukin gue ke
panti rehabilitasi, disanalah gue nemuin cara therapy sakaw gue dengan air
mineral, tiap kali gue udah mulai meriang dan tulang gue ngilu, gue langsung
minum air sebanyak-banyaknya, dan terbukti ini mengurangi rasa sakit yang di
akibatkan sakaw gue. Disanalah gue nipu orang-orang panti yang ngeliat gue udah
sembuh, padahal sebenarnya belum. Tapi gue berusaha dan bertekad untuk sembuh.
Gue nggak mau ngecewain bunda yang udah banyak berkorban demi gue, gue mau
buktiin ke bokap kalo gue bisa hidup tanpa dia dan juga barang haram itu, gue
juga mau buktiin ke orang-orang yang memandang sebelah mata pada orang-orang
seperti gue, gue juga manusia, gue punya cita-cita, gue nggak mau cita-cita gue
hancur dan masa depan gue rusak hanya karena barang laknat itu, dan gue juga
sadar betapa gue udah menyia-nyiakan hidup gue untuk barang haram itu, betapa
berharganya hidup sesungguhnya.” Ucap Adit sendu. “Kenapa kamu ceritain semua
ini sama aku dit?” tanya Dara. “Karena lo lain dari mereka yang selalu
menjelek-jelekkan gue dibelakang, gue lebih nyaman cerita sama lo, gue nyaman
ada di dekat lo dan gue baru sadar kalau sebenarnya lo itu.... tertarik sama
gue sejak SMP. Ini juga salah satu alasan yang menguatkan tekad gue untuk
sembuh, gue mau terlihat sempurna dimata lo, tanpa barang haram itu lagi, ya...
cinta.. cinta yang menguatkan tekad gue untuk bisa bangkit dari keterpurukan
gue saat ini. Cinta gue sama bunda, cinta gue sama kehidupan gue dan cinta gue
sama lo” kata Adit, “Cinta?... Aku?... apa? Kamu cinta aku?” tanya Dara kaget.
“Iyalah... gue bentak lo awalnya supaya elo nggak jatuh cinta lagi sama gue,
gue nggak mau lo punya pacar kayak gue. Ternyata lo malah makin kuat tekadnya
buat deket sama gue” ucap Adit lagi. Dara hanya bisa tersenyum dan berkata “Terima
kasih kamu udah membalas cinta yang aku berikan selama ini, dan aku yakin kamu
bisa sembuh, aku jamin. Asalkan tekad untuk kamu sembuh tetap kuat. Aku akan
selalu ada buat bantu kamu bangkit lagi dari kesengsaraan ini” ucap Dara sambil
memeluk Adit. “Terima kasih karena telah menjadi malaikat dihidupku” bisik Adit.
-Tamat-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar