Minggu, 09 Maret 2014

Pelangi Kala Hujan (Cerpen)


Sosok pendiam Adit dipandang aneh oleh teman-temannya, sosok Adit yang dahulu dikenal ceria, supel dan ramah kini berubah menjadi sosok yang pemurung dan juga pemarah. Tapi sosok Adit yang seperti itu tidak mengubah tekad Dara yang sejak SMP menyukainya. Dara selalu berusaha untuk menarik perhatian Adit walau menurut teman-temannya itu percuma saja karena karakter Adit yang cuek dan juga pemarah. Sekalinya Dara berbicara pada Adit saat itu pula Adit membentak Dara serta pergi begitu saja. Tapi apa daya, kalau sudah cinta apa mau dikata. Perjuangan Dara yang bertahun-tahun mencari perhatian Adit pun kini membuahkan hasil, sedikit demi sedikit Dara dan Adit dapat saling berbicara walau itu hanya saling menyapa ataupun menanyakan tugas. Kedekatan mereka berawal dari Pak Jono yang notabene adalah guru sejarah yang dikenal killer oleh siswanya sedang memasangkan siswa siswinya dalam sebuah tugas kelompok, awalnya Adit menolak untuk dipasangkan dengan Dara tetapi akhirnya terpaksa menuruti kemauan Pak Jono setelah mengungkit masalah Adit yang menjadi langganan guru BP, Adit merasa malas untuk berurusan dengan guru BP lagi hanya karena masalah melawan guru killer yang satu ini.
Kedekatan mereka kian lama kian bertambah hingga pada suatu hari Dara mendengar gosip-gosip miring tentang Adit. “Kamu tau nggak, aku denger-denger nih Adit itu anak broken home lohh...” kata Siska. “Hah? Adit? Radityo Kusuma itu?” tanya Desi. “Iya... itu! Dara kamu tau kan masalah ini? akhir-akhir ini kamu dekat dengan dia kan? Aku yakin kamu pasti tahu” celoteh Siska. Dara menjawab dengan cuek “Aku tidak tahu”, “Yang benar saja, tidak mungkin kamu tidak tahu. Kabar ini sudah menyebar di kalangan anak-anak satu sekolah” kata Siska. “Ya.. dan aku dengar Adit itu adalah seorang.... hmm... pemakai” kata Susi. “Hah? APA?” kata mereka serempak. “TIDAK MUNGKIN!!” bentak Dara sambil menggebrak meja. Dara berlari menuju halaman sekolah dimana banyak pepohonan rindang dan bangku-bangku santai, tempat itu merupakan tempat favorit Dara ketika ingin menyendiri. Lama Dara melamun serta kembali memikirkan perkataan teman-temannya tadi. “Dara!” teriak Dewi sahabat Dara. “Kamu itu main kabur aja, aku lari-lari ngejar dan manggil-manggil kamu tapi kamu nggak denger, mana larinya kenceng banget, ada apa sih?” tanya Dewi. “Biasa.... ratu gosip kelas kita mulai menunjukkan aksinya” kata Dara lesu. “Siska? Gosipin apa lagi dia?” tanya Dewi ingin tahu. “Ahh aku malas membahas itu. Katanya kamu mau ketemu Pak Rahmat mau nyusul ulangan? Cepet sana! Tadi aku liat dia baru dateng tuh. Guru kok ya datengnya siang, siswa datang siang kena sanksi, guru kena sanksi juga nggak ya kalau telat?” kata Dara jutek. “Husshhh ngomongnya..... iya-iya aku ke ruang guru dulu ya” kata Dewi sambil melangkah pergi. “Hati-hati yaa... titip gorengan Pak Husin kesukaanku yaaa...” teriak Dara, Dewi hanya mengacungkan jempolnya pertanda menerima permintaan Dara. Setelah itu Dara kembali termenung memikirkan perkataan Siska si ratu gosip mengenai Adit. Beberapa saat kemudian, “Aduh.. pengen pipis...” kata Dara sambil bangun dari duduknya dan berlari menuju toilet terdekat.

Toilet yang kini digunakan Dara bukanlah toilet yang biasa digunakan siswa siswi sekolahnya tetapi toilet yang memang jarang digunakan para siswa karena letaknya yang cukup jauh dari kelas mereka yang baru saja dibangun. Ketika itu terdengarlah ribut-ribut kecil yang tidak biasanya, seperti erangan seseorang yang samar-samar serta suara pintu dan dinding yang dipukul secara bergantian. Dengan takut  Dara segera pergi tanpa dihiraukannya suara itu, dan segera berlari menuju kantin untuk membeli sebotol air mineral. Dara yang masih penasaran dan juga takut mencoba untuk kembali melewati toilet yang digunakannya tadi, di dengarkannya dengan seksama suara sekecil apapun yang keluar dari dalam toilet itu. Dengan berjingkat-jingkat Dara mendekati toilet yang sekiranya menjadi sumber suara itu, perlahan ia mengetuk pintu toilet, “A..ada orang didalam?” tanya Dara lembut, tetapi tidak ada yang menjawab. Setelah diketuk lagi tetap tak ada jawaban  tiba-tiba Dara mendengar seperti ada sesuatu yang jatuh dari dalam toilet tersebut. “Hei.. siapa didalam? Aku buka ya pintu nya? Kau tidak apa-apa?” tanya Dara lagi tetapi tetap tak ada jawaban. “Aku buka ya” perlahan Dara membuka pintu toilet yang memang sepertinya tidak dikunci. Dengan kaget ia melihat Adit yang tergeletak hampir tak sadarkan diri di lantai. “Adit.. kamu kenapa?” tanya Dara dengan khawatir, “Kamu kenapa? Jawab dong” tanya Dara hampir menangis. “Ssttttt... kecilin suara lo, tutup pintunya. Cepetan!” kata Adit dengan lemah. Dara hanya bisa mengikuti apa yang disuruh oleh Adit tanpa berpikir panjang lagi. Udara pengap dan aroma khas toilet yang menyengat ditahannya demi mendapat keterangan pasti dari Adit. Adit segera memegang tangan Dara lama dan menatap Dara dengan dalam, jantung Dara yang berdegup mengalahkan suara Adit yang keluar dari mulutnya. Dara hanya bisa terpaku ketika Adit mulai mendekati wajah Dara, dan Dara hanya bisa memejamkan matanya. “Woy! Lo denger nggak sih? Pake merem segala. Gue bilang, gue minta air mineral lo ya.” Ucap Adit lirih dan serak. Tanpa sepersetujuan Dara, Adit segera merampas air mineral di tangan Dara dan segera meneguknya habis. Dara yang salah paham hanya bisa melihat dan terdiam. “Thanks” kata Adit dan memejamkan matanya lagi. Melihat Adit yang terdiam membuat Dara ikut terdiam, ia mulai berpikir mengapa badan Adit gemetar seperti ini? Mengapa wajahnya pucat? Pikiran-pikiran nakal mulai menghinggapi otak Dara. “Dit.. kamu kenapa? Kamu belum jawab pertanyaanku dari tadi” tanya Dara memecah keheningan. “Bukannya lo udah tahu? Anak-anak satu sekolah juga udah pada ngomongin gue” ucap Adit lirih masih tetap memejamkan matanya, “Jadi lo bener...” ucap Dara terpotong. “Pemakai? Iya... tapi gue sedang tahap penyembuhan. Udah ah lo mau ngobrol di WC gini? Sempit-sempitan sama gue, pengap pula” ucap Adit sambil berusaha bangun dari posisinya semula dengan dibantu Dara. “Gue keluar duluan ya. Nanti hitung 3 menit lo baru keluar dari sini. Bye”.  Adit segera keluar dari toilet dan 3 menit kemudian Dara pun menyusul.
Hampir satu sekolah telah dikeliling Dara untuk menemukan Adit dan akhirnya Dara menemukan Adit duduk dibawah pohon sambil meminum air mineral. “Sekarang kamu harus cerita, kenapa kamu bisa kayak tadi?” ucap Dara dengan nada sedikit memaksa. Adit diam, Dara pun ikut diam, Dara hanya bisa menunggu sampai Adit berbicara. Tak lama kemudian, “Lo tahu sakaw kan? Itu adalah keadaan dimana pemakai narkoba mulai nagih atau udah mulai pengen makek lagi, ya kayak gitu lah gue tadi, walau gue berusaha untuk menahan semua itu tapi tubuh gue nggak bisa, itu bener-bener nyiksa banget” ucap adit jujur. “Lalu kenapa kamu nyobak make tu barang haram? Gimana cerita awalnya?” tanya Dara. Lama Adit terdiam, barulah ia mulai angkat bicara. “Menurut lo, gue kayak begini karena pengen coba-coba dan masalah keluarga gue? Iya... keluarga gue emang rusak, bokap suka mukulin bunda kalau ada saja yang tidak sesuai dengan kehendaknya, gue suka sedih lihat bunda yang nangis tiap malem gara-gara bokap gue, wajah bunda yang cantik dan putih itu pun jadi sering terlihat bengkak dan biru-biru akibat memar setelah di tonjok bokap gue. Karena gue marah dengan prilaku bokap gue, gue samperin bokap gue ke tempat biasa dia nongkrong sama kawan-kawannya. Setelah sampai disana gue dipanggil bokap gue, disuruh duduk dan ikut nimbrung tapi gue nolak karena tujuan gue kesana buat marah-marah sama bokap gue, tapi tolakan gue itu malah buat bokap dan temen-temennya itu marah dan balik nyakitin gue, gue dipukulih habis-habisan, tangan gue diiket dan mulut gue dibekap. Lalu bokap gue ngerayu gue dan nusukkin itu jarum suntik laknat ketangan gue, memang awalnya rasanya enak. Karena itu gue jadi ketagihan make tu barang haram, sebulan, dua bulan, tiga bulan gue tetep keenakan make tu barang. Uang jajan gue dari bunda gue pake beli tu barang, tiap minggu uang jajan gue selalu nambah. Pernah suatu hari uang jajan gue nggak ditambah sama bunda, gue marah banget saat itu dan tanpa sadar mukul bunda. Gue sendiri kaget dan langsung masuk kamar. Sejak saat itu gue mulai berpikir, bunda gue yang gue sayangin malah gue sakitin, apa bedanya gue sama bokap saat itu? Uang hasil kerja keras bunda gue habisin buat beli tu barang haram. Saat itu gue marah banget sama bokap, bokap yang buat gue kayak monster seperti sekarang, bokap yang buat bunda sedih, bokap macam apa dia sebenarnya? Tega menjerumuskan anaknya kelubang neraka seperti ini, dan tega menyengsarakan anak dan istrinya, dan sekarang gue nggak tahu bokap ada dimana, dia kabur dikejar-kejar BNN dan polisi. Mungkin sekarang dia lagi seneng-seneng sama cewek-cewek genit itu atau mungkin dia lagi sengsara gara-gara jadi buronan, gue heran. Bokap macam apa dia? Dia yang buat gue kayak gini, dia! Dia yang ngerusak masa depan anaknya sendiri! Karena rasa sayang gue sama bunda lebih besar dari rasa sakit gue ketika sakaw, gue buat bunda sedih, gue buat bunda kecewa punya anak kayak gue, gue ceritain kalau gue make narkoba dan dia shock, dia akhirnya masukin gue ke panti rehabilitasi, disanalah gue nemuin cara therapy sakaw gue dengan air mineral, tiap kali gue udah mulai meriang dan tulang gue ngilu, gue langsung minum air sebanyak-banyaknya, dan terbukti ini mengurangi rasa sakit yang di akibatkan sakaw gue. Disanalah gue nipu orang-orang panti yang ngeliat gue udah sembuh, padahal sebenarnya belum. Tapi gue berusaha dan bertekad untuk sembuh. Gue nggak mau ngecewain bunda yang udah banyak berkorban demi gue, gue mau buktiin ke bokap kalo gue bisa hidup tanpa dia dan juga barang haram itu, gue juga mau buktiin ke orang-orang yang memandang sebelah mata pada orang-orang seperti gue, gue juga manusia, gue punya cita-cita, gue nggak mau cita-cita gue hancur dan masa depan gue rusak hanya karena barang laknat itu, dan gue juga sadar betapa gue udah menyia-nyiakan hidup gue untuk barang haram itu, betapa berharganya hidup sesungguhnya.” Ucap Adit sendu. “Kenapa kamu ceritain semua ini sama aku dit?” tanya Dara. “Karena lo lain dari mereka yang selalu menjelek-jelekkan gue dibelakang, gue lebih nyaman cerita sama lo, gue nyaman ada di dekat lo dan gue baru sadar kalau sebenarnya lo itu.... tertarik sama gue sejak SMP. Ini juga salah satu alasan yang menguatkan tekad gue untuk sembuh, gue mau terlihat sempurna dimata lo, tanpa barang haram itu lagi, ya... cinta.. cinta yang menguatkan tekad gue untuk bisa bangkit dari keterpurukan gue saat ini. Cinta gue sama bunda, cinta gue sama kehidupan gue dan cinta gue sama lo” kata Adit, “Cinta?... Aku?... apa? Kamu cinta aku?” tanya Dara kaget. “Iyalah... gue bentak lo awalnya supaya elo nggak jatuh cinta lagi sama gue, gue nggak mau lo punya pacar kayak gue. Ternyata lo malah makin kuat tekadnya buat deket sama gue” ucap Adit lagi. Dara hanya bisa tersenyum dan berkata “Terima kasih kamu udah membalas cinta yang aku berikan selama ini, dan aku yakin kamu bisa sembuh, aku jamin. Asalkan tekad untuk kamu sembuh tetap kuat. Aku akan selalu ada buat bantu kamu bangkit lagi dari kesengsaraan ini” ucap Dara sambil memeluk Adit. “Terima kasih karena telah menjadi malaikat dihidupku” bisik Adit.
 -Tamat-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar