Malam itu,
sungguh malam yang menyebalkan bagi Rere. Pertama, Nicky kakak kelasnya
ternyata adalah tetangga barunya. Kedua, malu banget sama Nicky karena udah
sampai teriak-teriak kayak ngeliat setan. Ketiga gara-gara udah nginjek kaki
Nicky, sumpah Rere pasti malu banget.
Esok paginya Rere sengaja tak ingin
sekolah, tetapi mamanya memaksanya untuk sekolah, padahal ia sudah capek banget
setelah beres-beres sampai malam dan ditambah lagi malu bukan main sama Nicky.
Rere segera beranjak dari kamarnya dengan malas. Tak di sangka-sangka seseorang
telah menunggunya di ruang tamu, pantas saja mama memaksa Rere untuk sekolah.
Diruang tamu tengah duduk sosok pria
yang dengan tampang segar baru mandi dan aroma parfum yang cowok banget.
Pakaiannya pun rapi, bahkan bisa dibilang, perfect abis dah, asli cowok banget.
“Ngapain lo?” tanya Rere
“Berangkat bareng!” kata Nicky
sambil menunjukkan kunci mobilnya.
Tanpa
pikir panjang Rere segera ikut di mobil Nicky karena waktu yang sudah tidak
memungkinkan lagi untuk memanaskan mobilnya apalagi waktu untuk nolak ajakan
Nicky. Di dalam mobil mereka hanya diam dan tak mengatakan apapun selain
memasang sabuk pengaman, menatap lurus kedepan, dan tak lupa berdoa, karena
yakin mereka bakal dengan kecepatan tinggi menuju kesekolah apalagi waktu udah
hampir menunjukkan jam bel sekolah, menanyakan sudah sarapan apa belum saja
tidak, yang pasti diam seribu bahasa dan tenggelam dengan pikirannya
masing-masing.
Sesampainya disekolah mereka
langsung berlari menuju kelas masing-masing karena baru saja mereka memasuki
halaman sekolah bel sudah berbunyi. Bahkan Rere belum sempat mengucapkan terima
kasih pada Nicky. Karena terlalu asiknya Rere berlari sampai tiang pun dia tak
sadar ada didepannya, akibatnya benjol lah kepalanya. Tetapi Rere tak peduli
dengan itu dan melanjutkan larinya menuju kelas.
~~~~~
Bel istirahat telah nyaring terdengar. Rere segera beranjak dari
tempat duduknya, dan sesegera itu ia langsung ngacir kelapangan basket. Disana
ia duduk diam menunggu seseorang.
“Udah lama ya?” suara lembut yang sangat dikenal Rere membuatnya
segera memalingkan wajahnya menatap sosok cowok dihadapannya.
“Eh.. nggak kok! Permainan lo bagus hari ini!” kata Rere sambil
menyodorkan handuk kepada Andre. Selagi Andre mengelap keringatnya dan
menghilangkan dahaganya, Rere kembali bicara.
“Ada apa? Kok minta janjian disini?”
Andre
hanya tersenyum dan mengeluarkan obat dari tasnya. Karena pertanyaan Rere tak
kunjung dijawab, Rere kembali bertanya.
“Obat apa?” tanya Rere penasaran
“Ohh Cuma vitamin” Andre tersenyum
dan melanjutkan bicaranya
“Nggak kok Re...gue Cuma mau nanya
aja, nanti malam ada acara nggak? Gue punya 2 tiket nonton, mau nggak?”
Tanpa
ditanya mau atau nggak juga Rere bakal ngikut, asalkan bareng Andre diajak
nyemplung kesungai juga mau. Rere segera menganggukkan kepalanya dengan cepat
dan juga perasaan senang. Tidak sabar rasanya menunggu nanti malam.
“Oke nanti gue jemput ya, jam 6
tepat!” kata Andre lalu meninggalkan Rere. Rere hanya diam dengan tatapan tak
percaya, bahwa dia akan kencan dengan Andre.
“Apa bisa disebut kencan ya?” kata
Rere lirih.
Rere
berjalan menuju kelasnya dan tak sengaja menabrak sosok pria dengan badan yang
cukup atletis.
“Maaf!” kata Rere cepat dan pergi
meninggalkan pria itu.
“Kenapa anak itu?” kata Nicky dengan
nada penasaran.
Dilihatnya
Rere memasuki kelasnya dan keluar membawa tas nya. Memang waktu telah
menunjukkan jam pulang sekolah,dan bel telah berbunyi, itu artinya anak-anak
telah diijinkan pulang. Raut wajah Rere yang nampak berseri-seri semakin
membuat Nicky heran.
Dengan perasaan senang Rere pulang
kerumah dan lekas-lekas mengganti pakaian. Rere turun dari kamarnya dan segera
menuju ruang makan. Dilihatnya wanita setengah baya tengah berdiri
membelakanginya,
“Mama masak apa? Rere udah laper ni”
“Ini mama masak sop ayam kesukaan
kamu” kata mama Rere yang segera mengambilkan anaknya sepiring nasi dan semangkuk
sop ayam yang baru saja makan.
“Mama tinggal dulu ya, kamu makan
aja dulu!” katanya lalu meninggalkan Rere sendiri diruang makan.
Rere
makan dengan bibir yang tak henti-hentinya senyam senyum sendiri, mungkin
apabila daerahnya menyelenggarakan perlombaan tersenyum paling lama, Rere akan
memenangkannya. Terbukti sejak dari sekolah hingga sekarang ia masih saja
tersenyum tanpa sedikitpun menguranginya.
Malam kencan Rere dengan Andre telah
tiba. Dengan perasaan tak keruan Rere menunggu kedatangan Andre di depan
rumahnya. Tak berapa lama, sebuah mobil terhenti tepat didepan pagar rumahnya.
Sesegera itu juga Rere berteriak memanggil mama nya dan berpamitan. Mama Rere
yang melihat tamu di hadapannya ini dengan raut wajah yang susah dimengerti.
Tak lama setelah mobil itu pergi ia kembali memasuki rumahnya dengan perasaan
aneh.
“Pa.. kok mama gimana gitu ngeliat
cowok itu, kok mama nggak suka ya sama cowok yang tadi itu?” Katanya resah
“Udah lah ma... biarin aja! Mungkin
Cuma perasaannya mama aja kali” Kata suaminya menenangkan.
~~~~~
Bioskop tempat Rere nonton bareng
Andre nggak terlalu ramai, bahkan bisa dibilang sepi, terbukti dengan banyak
kursi yang kosong. Rere duduk di pojok bersama dengan Andre, risih memang,
tetapi Rere tak peduli, asalkan bersama Andre, Rere akan bahagia di dekatnya.
Selama film diputar jantung Rere serasa berdegup kencang dan ingin melompat
dari tempatnya. Terasa tangan Rere mulai digenggam oleh Andre, darahnya
tiba-tiba saja seperti mengalir ke kepala, mungkin
sekarang warna wajahnya udah kayak udang rebus yang memerah, tetapi berhubung
tempat gelap dia berharap Andre tidak melihat perubahan yang terjadi pada Rere.
‘tahan re... tahan, elo nggak boleh kayak gini’ batin Rere.
“Re... aku suka sama kamu” bisik
Andre
Walaupun
suara itu kecil dan samar, tetapi mampu membuat tubuh Rere menegang, Andre yang
merasakan tubuh cewek disampingnya menegang Andre segera menatap Rere dan
tersenyum simpul.
“Lo mau nggak jadi pacar gue?” tanya
Andre dengan masih tersenyum. Rere hanya mengangguk pelan. Melihat gerakan
kepala Rere yang menandakan kata ya, Andre lalu memeluk Rere dengan hangat.
Rere merasakan kehangatan pelukan Andre dan membuat tubuhnya yang semula
tegang, kini mulai melunak dan membalas pelukan Andre.
Hari ini adalah hari yang paling
membahagiakan bagi Rere. Bagaimana tidak, saat-saat yang ditunggu Rere saat
Andre menyatakan cintanya pada Rere. ‘Gue jadian sama Andre’ Pekik Rere senang
dalam hati. Sesampainya dirumah ia langsung membaringkan tubuhnya dan lekas
tidur, ia tak sabar menunggu hari esok. Lama Rere terlelap,entah apa yang
dimimpikannya,hingga fajar menjelang barulah ia bangun.
Rere berharap pagi ini adalah pagi
yang menyenangkan. Menyapa Andre, berdua dengannya. Yah sesuatu yang
menyenangkan dilakukan oleh sepasang kekasih.
“Halo!” kata Rere saat menerima
telpon.
“Oya Re, kita makan bareng ya nanti
malem! Gue Jemput!”
“Oke-oke”
Rere
menutup telponnya dengan perasaan senang.
Entah setan apa yang telah merasuki
dirinya, selama pelajaran Rere hanya diam dan tersenyum-senyum sendiri,
teman-teman Rere hanya bingung melihat tingkah Rere yang aneh saat itu. Apapun
yang ditanyakan teman-temannya Rere tak menjawab sama sekali, dia tetap saja
diam dan tetap senyam senyum sendiri.
Waktu telah menunjukkan pukul 19.00,
saat itu juga Handphone Rere berdering. Rere melihat layar panggilan dan nama
Nicky terpampang disana.
“Re..!” Kata Nicky yang telpon nya
baru saja diangkat Rere.
“Kenapa? Kok heboh gitu?” kata Rere penasaran,sambil merapikan
rambutnya di depan cermin dan sedikit memasang gaya cantik.
“Lo mau pergi ya?”
“Iya.. emang kenapa?”
“Sama Andre?”
“Iya.. emang kenapa?” ulang Rere
“Gila Re...! Jangan! Andre tu....”
kata Nicky terpotong
“Weitss stop stop Nicq! Lo iri ya?
Udah deh ya.. gue mau siap-siap! Bye” kata Rere sedikit marah juga tersinggung
dan segera menutup telpon nya
“Nicky itu kenapa sih?” kata Rere
lirih dan kesal.
Tiba-tiba
saja terdengar klakson mobil yang dibunyikan sedari tadi, Rere segera menoleh
dan melihat Andre yang berada di dalam mobil. Rere segera berlari menuju mobil
Andre setelah terlebih dahulu berpamitan kepada kedua orang tuanya.
“Sorry ndre lama! Tadi ngangkat
telpon dulu bentar, nggak kenapa kan?”
“Ya.. nggak apa!” kata Andre dan
segera melajukan mobilnya.
“Ndre kamu marah ya?”
“Nggak kok”
“Tapi jangan gitu dong muka nya,
senyum dikit” kata Rere resah.
Andre
lalu memandang Rere dan tersenyum, tangannya menyibakkan rambut Rere, lalu
kembali menatap jalan. Rere ikut tersenyum melihat sikap Andre saat itu.
Sesampainya di sebuah Restoran,
Andre segera menggandeng Rere dan mengajaknya untuk segera masuk ke dalam
restoran. Di dalam restoran, nampak seorang pria setengah baya dan wanita
cantik di sampingnya, Rere menebak pasti itu mama dan papa Andre. Rere dan
Andre berjalan menuju meja tempat pria dan wanita itu duduk, dan benar saja
tebakan Rere, itu memang papa dan mama Andre karena Andre langsung saja
memanggil papa nya. Rere tersenyu manis kepada papa dan mama Andre bahkan
terlalu manis, kebanget manis deh.
Saat menyantap hidangan yang tersaji
didepannya, tiba-tiba papa Andre berkata
“Kapan kalian menikah?”
Jelas
saja pertanyaan yang begitu tiba-tiba itu membuat Rere kaget, terlebih lagi Andre karena ia langsung terbatuk-batuk akibat
tersedak makanannya dan tidak bisa bernapas. Rere segera menepuk-nepuk punggung
Andre dan memberinya minum.
“Papa ini apa-apaan, kami
masih sekolah pa, masih SMA bahkan!” omel Andre
“Ya nanti setelah kalian lulus. Papa nggak mau ndre kamu kayak
dulu-dulu itu lagi, pacaran main-main. Papa liat pacar kamu yang satu ini emang
bener-bener cewek baik-baik”
“Nggak pa! Papa nggak berhak mengatur-ngatur hal yang bersifat
pribadi milik Andre kayak gini.”
“Terus kamu mau gimana? Kamu itu banyak bikin papa malu di depan
rekan-rekan kerja papa. Kamu anak Papa satu-satunya, berikan papa yang terbaik
ndre”
“Pasti pa,, Cuma belum saatnya”
“Saatnya kapan?”
“Om, Andre, ini tempat umum, jangan bertengkar disini ya Om,
Orang-orang pada liatin” kata Rere yang sedari tadi diam mendengarkan akhirnya
angkat bicara. Jelas saja, secara orang-orang pada ngeliatin mereka kayak gitu,
bisa-bisa di usir satpam.
“Maaf ya Re, Om lupa ada kamu, Om jadi nggak enak!”
“Nggak apa-apa Om” kata Rere sambil tersenyum. Sedangkan Andre
hanya diam dengan raut wajah yang masih kesal.
“Kamu udah selesai makan Re?”tanya mama Andre
“Udah tante”
“Kalian pulang ya, udah malem! Nggak enak juga sama mama papa
kamu” kata mama Andre penuh perhatian.
“Iya tante!” kata Rere. Lalu Andre segera bangkit dari kursinya
dan mengajak Rere menuju mobilnya.
Didalam mobil mereka hanya diam, Rere tak berani membuka mulutnya
karena takut Andre marah.
“Maafin kejadian tadi ya Re” kata Andre tiba-tiba
“Ee’hh.. Iya nggak apa-apa kok”
Mobil
Andre tiba tepat didepan pagar rumah Rere.
“Sorry, gue nggak nganter ampe dalem
ya Re!”
“Iya nggak apa-apa! Lo istirahat
aja” kata Rere penuh perhatian. Lalu Andre segera mengecup kening Rere dan
masuk kembali ke mobilnya serta meluncur pergi menjauh.
(Kisah hidup Rere tidak hanya sampai disini, tunggu kelanjutan ceritanya di chapter 3 yang mengisahkan sakit hati Rere pada kekasihnya Andre yang ternyata pecandu, dan bagaimana Nicky tetap berusaha mendapatkan hati Rere. Tunggu kelanjutan cerita ini hanya di Media cita : Love is choise chapter 3)