Jumat, 21 Maret 2014

Love is Choise - Chapter 2 (created by: Wahyunie Putri)


        Malam itu, sungguh malam yang menyebalkan bagi Rere. Pertama, Nicky kakak kelasnya ternyata adalah tetangga barunya. Kedua, malu banget sama Nicky karena udah sampai teriak-teriak kayak ngeliat setan. Ketiga gara-gara udah nginjek kaki Nicky, sumpah Rere pasti malu banget.
             Esok paginya Rere sengaja tak ingin sekolah, tetapi mamanya memaksanya untuk sekolah, padahal ia sudah capek banget setelah beres-beres sampai malam dan ditambah lagi malu bukan main sama Nicky. Rere segera beranjak dari kamarnya dengan malas. Tak di sangka-sangka seseorang telah menunggunya di ruang tamu, pantas saja mama memaksa Rere untuk sekolah.
            Diruang tamu tengah duduk sosok pria yang dengan tampang segar baru mandi dan aroma parfum yang cowok banget. Pakaiannya pun rapi, bahkan bisa dibilang, perfect abis dah, asli cowok banget.
            “Ngapain lo?” tanya Rere  
            “Berangkat bareng!” kata Nicky sambil menunjukkan kunci mobilnya.
Tanpa pikir panjang Rere segera ikut di mobil Nicky karena waktu yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk memanaskan mobilnya apalagi waktu untuk nolak ajakan Nicky. Di dalam mobil mereka hanya diam dan tak mengatakan apapun selain memasang sabuk pengaman, menatap lurus kedepan, dan tak lupa berdoa, karena yakin mereka bakal dengan kecepatan tinggi menuju kesekolah apalagi waktu udah hampir menunjukkan jam bel sekolah, menanyakan sudah sarapan apa belum saja tidak, yang pasti diam seribu bahasa dan tenggelam dengan pikirannya masing-masing.
            Sesampainya disekolah mereka langsung berlari menuju kelas masing-masing karena baru saja mereka memasuki halaman sekolah bel sudah berbunyi. Bahkan Rere belum sempat mengucapkan terima kasih pada Nicky. Karena terlalu asiknya Rere berlari sampai tiang pun dia tak sadar ada didepannya, akibatnya benjol lah kepalanya. Tetapi Rere tak peduli dengan itu dan melanjutkan larinya menuju kelas.
                                                                          ~~~~~
Bel istirahat telah nyaring terdengar. Rere segera beranjak dari tempat duduknya, dan sesegera itu ia langsung ngacir kelapangan basket. Disana ia duduk diam menunggu seseorang.
“Udah lama ya?” suara lembut yang sangat dikenal Rere membuatnya segera memalingkan wajahnya menatap sosok cowok dihadapannya.
“Eh.. nggak kok! Permainan lo bagus hari ini!” kata Rere sambil menyodorkan handuk kepada Andre. Selagi Andre mengelap keringatnya dan menghilangkan dahaganya, Rere kembali bicara.
“Ada apa? Kok minta janjian disini?”
Andre hanya tersenyum dan mengeluarkan obat dari tasnya. Karena pertanyaan Rere tak kunjung dijawab, Rere kembali bertanya.
            “Obat apa?” tanya Rere penasaran
            “Ohh Cuma vitamin” Andre tersenyum dan melanjutkan bicaranya
            “Nggak kok Re...gue Cuma mau nanya aja, nanti malam ada acara nggak? Gue punya 2 tiket nonton, mau nggak?”
Tanpa ditanya mau atau nggak juga Rere bakal ngikut, asalkan bareng Andre diajak nyemplung kesungai juga mau. Rere segera menganggukkan kepalanya dengan cepat dan juga perasaan senang. Tidak sabar rasanya menunggu nanti malam.
            “Oke nanti gue jemput ya, jam 6 tepat!” kata Andre lalu meninggalkan Rere. Rere hanya diam dengan tatapan tak percaya, bahwa dia akan kencan dengan Andre.
            “Apa bisa disebut kencan ya?” kata Rere lirih.
Rere berjalan menuju kelasnya dan tak sengaja menabrak sosok pria dengan badan yang cukup atletis.
            “Maaf!” kata Rere cepat dan pergi meninggalkan pria itu.
            “Kenapa anak itu?” kata Nicky dengan nada penasaran.
Dilihatnya Rere memasuki kelasnya dan keluar membawa tas nya. Memang waktu telah menunjukkan jam pulang sekolah,dan bel telah berbunyi, itu artinya anak-anak telah diijinkan pulang. Raut wajah Rere yang nampak berseri-seri semakin membuat Nicky heran.

            Dengan perasaan senang Rere pulang kerumah dan lekas-lekas mengganti pakaian. Rere turun dari kamarnya dan segera menuju ruang makan. Dilihatnya wanita setengah baya tengah berdiri membelakanginya,
            “Mama masak apa? Rere udah laper ni”
            “Ini mama masak sop ayam kesukaan kamu” kata mama Rere yang segera mengambilkan anaknya sepiring nasi dan semangkuk sop ayam yang baru saja makan.
            “Mama tinggal dulu ya, kamu makan aja dulu!” katanya lalu meninggalkan Rere sendiri diruang makan.
Rere makan dengan bibir yang tak henti-hentinya senyam senyum sendiri, mungkin apabila daerahnya menyelenggarakan perlombaan tersenyum paling lama, Rere akan memenangkannya. Terbukti sejak dari sekolah hingga sekarang ia masih saja tersenyum tanpa sedikitpun menguranginya.
            Malam kencan Rere dengan Andre telah tiba. Dengan perasaan tak keruan Rere menunggu kedatangan Andre di depan rumahnya. Tak berapa lama, sebuah mobil terhenti tepat didepan pagar rumahnya. Sesegera itu juga Rere berteriak memanggil mama nya dan berpamitan. Mama Rere yang melihat tamu di hadapannya ini dengan raut wajah yang susah dimengerti. Tak lama setelah mobil itu pergi ia kembali memasuki rumahnya dengan perasaan aneh.
            “Pa.. kok mama gimana gitu ngeliat cowok itu, kok mama nggak suka ya sama cowok yang tadi itu?” Katanya resah
            “Udah lah ma... biarin aja! Mungkin Cuma perasaannya mama aja kali” Kata suaminya menenangkan.
                                                                           ~~~~~
            Bioskop tempat Rere nonton bareng Andre nggak terlalu ramai, bahkan bisa dibilang sepi, terbukti dengan banyak kursi yang kosong. Rere duduk di pojok bersama dengan Andre, risih memang, tetapi Rere tak peduli, asalkan bersama Andre, Rere akan bahagia di dekatnya. Selama film diputar jantung Rere serasa berdegup kencang dan ingin melompat dari tempatnya. Terasa tangan Rere mulai digenggam oleh Andre, darahnya tiba-tiba saja seperti mengalir ke kepala, mungkin sekarang warna wajahnya udah kayak udang rebus yang memerah, tetapi berhubung tempat gelap dia berharap Andre tidak melihat perubahan yang terjadi pada Rere. ‘tahan re... tahan, elo nggak boleh kayak gini’ batin Rere.
            “Re... aku suka sama kamu” bisik Andre
Walaupun suara itu kecil dan samar, tetapi mampu membuat tubuh Rere menegang, Andre yang merasakan tubuh cewek disampingnya menegang Andre segera menatap Rere dan tersenyum simpul.
         “Lo mau nggak jadi pacar gue?” tanya Andre dengan masih tersenyum. Rere hanya mengangguk pelan. Melihat gerakan kepala Rere yang menandakan kata ya, Andre lalu memeluk Rere dengan hangat. Rere merasakan kehangatan pelukan Andre dan membuat tubuhnya yang semula tegang, kini mulai melunak dan membalas pelukan Andre.
            Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi Rere. Bagaimana tidak, saat-saat yang ditunggu Rere saat Andre menyatakan cintanya pada Rere. ‘Gue jadian sama Andre’ Pekik Rere senang dalam hati. Sesampainya dirumah ia langsung membaringkan tubuhnya dan lekas tidur, ia tak sabar menunggu hari esok. Lama Rere terlelap,entah apa yang dimimpikannya,hingga fajar menjelang barulah ia bangun.
            Rere berharap pagi ini adalah pagi yang menyenangkan. Menyapa Andre, berdua dengannya. Yah sesuatu yang menyenangkan dilakukan oleh sepasang kekasih.
            “Halo!” kata Rere saat menerima telpon.
            “Oya Re, kita makan bareng ya nanti malem! Gue Jemput!”
            “Oke-oke”
Rere menutup telponnya dengan perasaan senang.
            Entah setan apa yang telah merasuki dirinya, selama pelajaran Rere hanya diam dan tersenyum-senyum sendiri, teman-teman Rere hanya bingung melihat tingkah Rere yang aneh saat itu. Apapun yang ditanyakan teman-temannya Rere tak menjawab sama sekali, dia tetap saja diam dan tetap senyam senyum sendiri.
            Waktu telah menunjukkan pukul 19.00, saat itu juga Handphone Rere berdering. Rere melihat layar panggilan dan nama Nicky terpampang disana.
            “Re..!” Kata Nicky yang telpon nya baru saja diangkat Rere.
“Kenapa? Kok heboh gitu?” kata Rere penasaran,sambil merapikan rambutnya di depan cermin dan sedikit memasang gaya cantik.
            “Lo mau pergi ya?”
            “Iya.. emang kenapa?”
            “Sama Andre?”
            “Iya.. emang kenapa?” ulang Rere
            “Gila Re...! Jangan! Andre tu....” kata Nicky terpotong
            “Weitss stop stop Nicq! Lo iri ya? Udah deh ya.. gue mau siap-siap! Bye” kata Rere sedikit marah juga tersinggung dan segera menutup telpon nya
            “Nicky itu kenapa sih?” kata Rere lirih dan kesal.
Tiba-tiba saja terdengar klakson mobil yang dibunyikan sedari tadi, Rere segera menoleh dan melihat Andre yang berada di dalam mobil. Rere segera berlari menuju mobil Andre setelah terlebih dahulu berpamitan kepada kedua orang tuanya.
            “Sorry ndre lama! Tadi ngangkat telpon dulu bentar, nggak kenapa kan?”
            “Ya.. nggak apa!” kata Andre dan segera melajukan mobilnya.
            “Ndre kamu marah ya?”
            “Nggak kok”
            “Tapi jangan gitu dong muka nya, senyum dikit” kata Rere resah.
Andre lalu memandang Rere dan tersenyum, tangannya menyibakkan rambut Rere, lalu kembali menatap jalan. Rere ikut tersenyum melihat sikap Andre saat itu.
            Sesampainya di sebuah Restoran, Andre segera menggandeng Rere dan mengajaknya untuk segera masuk ke dalam restoran. Di dalam restoran, nampak seorang pria setengah baya dan wanita cantik di sampingnya, Rere menebak pasti itu mama dan papa Andre. Rere dan Andre berjalan menuju meja tempat pria dan wanita itu duduk, dan benar saja tebakan Rere, itu memang papa dan mama Andre karena Andre langsung saja memanggil papa nya. Rere tersenyu manis kepada papa dan mama Andre bahkan terlalu manis, kebanget manis deh.
            Saat menyantap hidangan yang tersaji didepannya, tiba-tiba papa Andre berkata
            “Kapan kalian menikah?”
Jelas saja pertanyaan yang begitu tiba-tiba itu membuat Rere kaget, terlebih lagi Andre karena ia langsung terbatuk-batuk akibat tersedak makanannya dan tidak bisa bernapas. Rere segera menepuk-nepuk punggung Andre dan memberinya minum.
 “Papa ini apa-apaan, kami masih sekolah pa, masih SMA bahkan!” omel Andre
“Ya nanti setelah kalian lulus. Papa nggak mau ndre kamu kayak dulu-dulu itu lagi, pacaran main-main. Papa liat pacar kamu yang satu ini emang bener-bener cewek baik-baik”
“Nggak pa! Papa nggak berhak mengatur-ngatur hal yang bersifat pribadi milik Andre kayak gini.”
“Terus kamu mau gimana? Kamu itu banyak bikin papa malu di depan rekan-rekan kerja papa. Kamu anak Papa satu-satunya, berikan papa yang terbaik ndre”
“Pasti pa,, Cuma belum saatnya”
“Saatnya kapan?”
“Om, Andre, ini tempat umum, jangan bertengkar disini ya Om, Orang-orang pada liatin” kata Rere yang sedari tadi diam mendengarkan akhirnya angkat bicara. Jelas saja, secara orang-orang pada ngeliatin mereka kayak gitu, bisa-bisa di usir satpam.
“Maaf ya Re, Om lupa ada kamu, Om jadi nggak enak!”
“Nggak apa-apa Om” kata Rere sambil tersenyum. Sedangkan Andre hanya diam dengan raut wajah yang masih kesal.
“Kamu udah selesai makan Re?”tanya mama Andre
“Udah tante”
“Kalian pulang ya, udah malem! Nggak enak juga sama mama papa kamu” kata mama Andre penuh perhatian.
“Iya tante!” kata Rere. Lalu Andre segera bangkit dari kursinya dan mengajak Rere menuju mobilnya.
Didalam mobil mereka hanya diam, Rere tak berani membuka mulutnya karena takut Andre marah.
“Maafin kejadian tadi ya Re” kata Andre tiba-tiba
“Ee’hh.. Iya nggak apa-apa kok”
Mobil Andre tiba tepat didepan pagar rumah Rere.
            “Sorry, gue nggak nganter ampe dalem ya Re!”
            “Iya nggak apa-apa! Lo istirahat aja” kata Rere penuh perhatian. Lalu Andre segera mengecup kening Rere dan masuk kembali ke mobilnya serta meluncur pergi menjauh.

(Kisah hidup Rere tidak hanya sampai disini, tunggu kelanjutan ceritanya di chapter 3 yang mengisahkan sakit hati Rere pada kekasihnya Andre yang ternyata pecandu, dan bagaimana Nicky tetap berusaha mendapatkan hati Rere. Tunggu kelanjutan cerita ini hanya di Media cita : Love is choise chapter 3)

Senin, 10 Maret 2014

Love is Choise (chapter 1) - created by Wahyunie


    Emang susah rasanya untuk memilih. Pilihan! Itu yang selalu ada dibenak setiap orang dimanapun mereka berada. Dalam hidup ini selalu ada saja yang harus kita pilih, dan pilihan yang diambil itu entah akan menjadi hal yang baik, atau bahkan bisa pula menjadi hal yang buruk. Rere adalah salah satu orang yang mempunyai sifat tidak suka memilih, bahkan apabila dia ingin mungkin di depan kamar, di baju, di tas, dan dimanapun dia akan memasang label “ANTI MEMILIH”, tapi sayangnya Rere males banget kalo ditanyain kenapa norak banget pake acara masang label segala, nggak afdol dong. Rere, atau lengkapnya Renata Anjani. Gadis yang bahkan bisa disebut anak dari kalangan yang berada, tetapi untuk memilih sesuatu susah banget. Bisa dibayangkan, kalau dia harus menentukan model sepatu yang akan dia kenakan pasti akan ribet setengah mati. Maka dari itu ia selalu memakai barang yang pertama dilihatnya. Begitupula dengan cowok, Rere telah suka pada Andre saat pertama melihatnya, maka dari itu cowok manapun yang mendekati Rere akan ditolaknya mentah-mentah,biar cowok-cowok itu nggak ganggu dia lagi. Tetapi semua itu tak berlaku bagi Nicky, kakak kelas Rere yang penuh dengan semangat yang berapi-api alias pantang menyerah gitu, akan mempertahankan cintanya pada Rere, hanya saja Nicky selalu memberikan perhatiannya diam-diam, karena takut Rere malah jadi makin ill feel sama Nicky. Ya... tapi seperti biasa, apapun yang dilakukan Nicky untuk Rere akan ditolaknya mentah-mentah. Tetapi Nicky bukanlah orang yang pantang menyerah, sehinggga sedikit demi sedikit meluluhkan hati Rere. Tetapi Rere yang menjunjung tinggi tekadnya untuk tidak memilih,yang katanya kalo milih-milih malah nyesel itu, sehingga diinjaknya perasaan suka pada Nicky dan lebih mengutamakan Andre.
            “Re... lo nggak keterlaluan sama kak Nicq? Dia udah berjuang mati-matian demi narik perhatian lo, ampe dia Cuma bisa merhatiin lo dari jauh gitu,tapi elo sama sekali nggak ngerespon. Inget lo Re, kesabaran itu ada batasnya. Setidaknya lo kasi kek kesempatan dikit buat kak Nicq!” oceh Omi mati-matian dukung Nicky yang setengah mati berkorban.
Yang di ajak ngomong cuma mangap-mangap plus ngelirik nggak nafsu lalu berkata,
            “Tau gue kan neng, gue ngga mau milih-milih, apalagi milih antara Andre ato Nicky, Andre ya Andre aja. Males banget milih-milih” sewot Rere.
Omi yang udah capek nasehatin Rere lebih memilih untuk diam dan mengalah. Ia tahu pasti, apabila obrolan itu diperpanjang,Rere bakal mogok bicara pada Omi.
                                                                            ----------
      Suasana rumah Rere yang biasanya tenang, hari ini jadi ribut banget. Kata mama nya, ada tetangga baru di sebelah rumahnya, makanya jadi ribut bukan main. Ada yang teriak-teriak bilang ‘kiri kiri, kanan kanan’, dalam hati Rere sempat ngedumel, kayak tukang parkir banget. Tetapi kayaknya suara ribut-ribut diseberang sana nggak mengganggu acara tidur siang Rere. Terbukti dari cara tidur Rere yang bisa dibilang kayak Kebo, asli mirip. Mulutnya tak henti-hentinya mangap mingkem kayak kebo makan, terus acara garuk-garuk kayak monyet. Tapi entah mengapa itu sama sekali tidak mengurangi kecantikan Rere, malah mungkin jadi tambah lucu.
Sore hari, Rere yang bosan dirumah lebih memilih untuk berjalan-jalan bersama Jolie anjingnya. Ia mengitari taman dan beristirahat di sebuah bangku tepat dibawah pohon. Mungkin ia duduk terlalu lama sehingga ia merasa bosan dan memutuskan untuk pulang. Tetapi ditengah perjalanan ia melihat sosok penjual es krim langgananya. Rere segera berlari menuju tempat itu. Setelah mengambil es krimnya dan tak lupa memberikan beberapa lembar uang dua ribuan, seorang cowok yang tak asing baginya,terlihat sedang memakai jaket parasut berwarna putih biru dan sepertinya pemuda itu baru saja berolahraga, karena dilihat dari keringatnya yang bercucuran. Melihat siapa cowok itu, Rere kalap dan terkejut.
“Nicky!” dengan nada tak percaya, Rere membelalakkan matanya.
            “Rere!” dengan tatapan sama ia melihat Rere.
            “Ngapain lo disini?” kata mereka berbarengan.
            “Gue ngajak Jolie jalan-jalan” kata Rere sambil menujuk anjingnya.
            “Gue habis lari nih muter-muterin taman” kata Nicky dengan senyum khas nya yang terukir diwajah cakep Nicky, dan sanggup membuat Rere sedikit salah tingkah.
            “Rumah lo disekitar sini?” tanya Rere sambil memakan es krimnya, dan Nicky hanya mengangguk pelan.
            “Oh... ya udah gue duluan ya” kata Rere mengakhiri percakapan mereka dan beranjak pergi.
Diperjalanan Rere masih bingung, bagaimana bisa rumah Nicky disekitar sini, Rere yang sering lewat sini aja nggak pernah sekalipun melihat Nicky. Berbagai pertanyaan yang berkelebat di kepala Rere segera di hapusnya,dan berusaha tidak memikirkan kejadian aneh itu.
                                                                             ----------
Waktu telah menunjukkan pukul 07.00, menurut mama Rere akan ada tamu yang datang untuk makan malam bersama.
“Siapa sih tamunya, ampe harus dandan gini!” gerutu Rere setelah terakhir  sedikit memulaskan lipgloss di bibirnya ia segera turun menuju ruang makan. Dress ungu selutut yang dikenakan Rere semakin membuat Rere terlihat tinggi, ditambah lagi alas kaki berwarna ungu dengan tali yang terikat dan menghiasi pergelangan kakinya serta hak 6 cm yang membuat kakinya terlihat indah.
Tamu undangan makan malam telah hadir dan duduk di halaman belakang yang disulap bak dinner romantis kebanyakan. Mama dan Papa Rere emang pasangan suami istri yang suka banget dekorasi yang unik dan romantis. Nggak salah kalo rumah Rere arsitekturnya emang keren banget.
Keluarga Rere segera menyapa tamu di hadapannya.
“ Apa kabar ni bung Anton? Sudah lama kita tak bertemu” Seru papa Rere senang.
“Baik-baik saja! Siapa ini?” kata Om Anton sambil tersenyum kepada Rere.
“Ini Rere! Anak semata wayang kami, yang dulu pernah aku ceritakan kepada mu” kata papa Rere lalu mulai berbisik-bisik pada Om Anton dan tertawa-tawa. Sungguh itu membuat Rere risih.
“Oh ya! Hmm...ini anak kedua saya Nancy, Nicq kakaknya belum datang. Mungkin nanti dia menyusul”
Nama Nicq membuat jantung Rere berdetak cepat ‘mungkin hanya kebetulan namanya sama’ batin Rere.
Dengan tidak banyak bicara lagi, kami semua mengobrol dan tertawa sembari menikmati hidangan pembuka. Handphone yang sedari tadi berada di tangannya berdering dengan nyaring. Setelah meminta ijin untuk mengangkat telpon ia segera menuju halaman depan dan mengangkat handphone miliknya.
            “Halo Rere!” Teriak Omi dari seberang sana. Sesegera mungkin ia menjauhkan handphonenya dari telinga.
            “Apaan sih! Pake teriak-teriak segala” bentak Rere.
Sesampainya di halaman depan ia dengan cepat langsung duduk di bangku taman tanpa melihat-lihat apakah ada orang yang mengikutinya. Lama ia menelpon, sesekali ia memandang halaman didepannya. Tak sengaja pandangan itu terarah ke sisi kirinya, hampir saja ia melepaskan handphone yang sedang nyaman bertengger ditelinganya dan dengan hangat digenggam pemiliknya. Karena kaget disertai berteriak bagai ngeliat setan Rere langsung saja mematikan handphonenya.
            “Nga..nga..ngapain lo kesini?” tanya Rere yang masih kaget dengan terbata-bata.
            “Di undang makan! Lo ngapain disini?” masih dengan tampang polos si cowok bertanya.
            “Ini rumah gue!”
Nicky spontan membelalakkan matanya. “Apa?!”
Setelah berhasil mengontrol emosinya akibat terkejut tadi, Rere kembali bertanya kepada Nicky.
“Oh... elo toh yang dibilang anak sulung Om Anton yang disebut-sebut Nicq itu, gue kira cuma kebetulan namanya doang yang sama”
“Iya itu nama kecil gue”
“Ohhhhh kenapa lo diluar, nggak langsung masuk aja?”
“Gue baru aja habis ngangkat telpon tadi, pas elo dateng gue baru selesai nelpon. Tadinya gue mau nyapa tapi kayaknya lo serius banget,makanya nggak jadi, lah elo baru ngeliat gue udah kayak ngeliat setan,teriak-teriak gitu, kalo di denger tetangga gue bisa disangka ngapa-ngapain elo” kata Nicky masing dengan nada biasa, padahal hatinya, dag dig dug bahagia ngeliat cewek yang disukain duduk di sampingnya dengan penampilan super cantik.
“Iya-iya maaf, hh..ya udah, ayo masuk, yang lain udah nunggu.” Kata Rere akhirnya.
Mereka berjalan beriringan menuju halaman belakang. Keluarga mereka yang melihatnya lalu sedikit berbisik dan tertawa.
            “Tuh kan apa saya bilang!cocok!” bisik mereka bergantian. Jelas saja Nicky dan Rere tidak mendengar pembicaraan itu.
            “ Ini lo Re...” kata ayah setelah mereka duduk berdampingan.
            “Nak Nicky ini, anak teman papa dulu waktu semasa SMA, teman papa itu ya Om Anton Ini, dan kebetulan mereka sekarang jadi tetangga kita!”
Rere benar-benar kaget mendengar perkataan papanya.’jadi ini tetangga baruku?’ batin Rere.
                                                                             ----------
 
         Selesai acara makan malam itu, keluarga Nicky segera pamit pulang. Kecuali Nicky. Ya..... Om Anton menyuruh Nicky untuk membantu membersihkan semua itu, baru dia boleh pulang. Nicky sih nggak keberatan secara bantuin cewek yang udah lama di taksirnya, ditambah lagi jadi tetangga baru, makin seneng deh. Nicky segera merapikan piring-piring dan menumpuknya. Rere segera mengangkat piring-piring dan membawanya ke dapur. Tetapi kini Rere salah perkiraan saat berjalan menggunakan high heel, sehingga Rere tersandung dan mematahkan haknya. Dengan gerakan cepat, Nicky segera menangkapnya dan menyelamatkan piring-piringnya.
            “Untung piringnya nggak pecah, kalo mau beres-beres lepasin dulu alas kaki lo, dan....” kata Nicky sambil sedikit merintih dan melanjutkan omongannya “...... hak sendal lo nginjek kaki gue”
Sesegera mungkin Rere berdiri tegak dan melepaskan tubuhnya dari Nicky.
            “Ma..maaf! ya udah gue mau lanjutin beres-beres”

Bersambung.... (Love is Choise chapter 2)