Kemarin malam adalah hari yang
benar-benar membuat Rere shock sekaligus senang, menurutnya kemarin itu
menandakan hubungan Andre dan dirinya telah disetujui oleh orang tua Andre,
jadi mereka nggak perlu ngumpet-ngumpet lagi kalo mau jalan atau ngapain.
Disekolah
Rere bercerita pada sahabatnya Omi, Omi yang mendengar hanya bisa
ngangguk-ngangguk kayak ayam mabuk. Jelas aja Rere itu ngoceh nggak ada titik
komanya. Heran deh.
“Stop
Re..Stop..Enough! lo ngulang kata-kata lo ampe 10x! Gue udah ngerti kok, nggak
perlu di ulang lagi.Oke” kata Omi sedikit jengkel.
Rere hanya nyengir dan berkata, “Gue seneng tau”.
Omi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah
sahabatnya yang satu ini.
Sepulang
sekolah, Rere dicegat oleh Andre dan segera menarik Rere ke dalam mobil Andre
yang terparkir di bawah pohon agak jauh dari sekolah,dan tempatnya pun sepi.
“Ada
apa ndre?”
“Nanti
malem gue mau ngenalin lo sama temen-temen nongkrong gue. Mau apa nggak?”
“Ya
boleh aja sih..tapi...”
“Oke,
nanti gue jemput, sekarang elo boleh keluar dari mobil ini”
Rere hanya menurut. ‘Ada apa sih?’ batin Rere.
Diperjalanan
pulang Rere masih tetap memikirkan kejadian tadi, ada apa sesungguhnya dengan
Andre. Sesampainya dirumah Rere langsung menjatuhkan tubuhnya ditempat tidur.
“Kenapa
sih dia, tiba-tiba kayak penjahat yang narik orang seketika lalu entar nya
ngusir!”kata Rere mengeluh.
Kletok
Rere terkejut disaat sebuah batu kerikil dilemparkan
ke jendela kamar Rere, Rere perlahan menuju jendela itu dan melongokkan
kepalanya pada saat itu juga sebuah Kerikil kembali terlempar dan kini kerikil
itu sukses medarat di kepala Rere.
“Aduh...!”jerit
Rere
“Ups..
Maaf Re! Habis..lo lama banget keluarnya!” Teriak Nicky dari halaman rumahnya.
“Hissshhh..
Apa-apaan sih lo? Untung batunya kecil coba kalo segede kelapa bisa pecah
kepala gue!”
“Hihihi...
Maaf!” kata Nicky nyengir
“Ada
apa?” tanya Rere lagi
“Lo
ada acara nggak? Gue mau ngajak lo makan, ada ayam bakar enak lho yang dijual
deket-deket sini!”
“Gue
mau jalan ntar sama Andre! Lain kali deh ya!” kata Rere sambil mengukir senyum
di bibirnya.
“Oke!”
Kamar
Nicky bisa dibilang cukup luas, banyak alat elektronik disana, kamar itu kini
hening, entah apa yang sedang dilakukan pemiliknya. Terlihat sosok Nicky yang
sedang diam dan terhanyut dalam pikirannya sendiri, ia duduk di pinggiran
jendela sembari menatap hamparan rumah-rumah yang lain.
“Kenapa
gue khawatir ya?” Gumam Nicky
“Gue
harus ngelakuin sesuatu” gumamnya lagi
Waktu
kini telah menunjukkan jam 7 malam. Nampak dari kejauhan sebuah mobil menuju
kearah rumah Rere, dan tepat berhenti di depan rumah Rere.
“Ma...
Re berangkat ya!” Teriak Rere
“Ya..
Hati-hati ya sayang jangan kemaleman pulangnya!” jawab mama Rere
Rere segera masuk kedalam mobil
Andre dan tetap duduk dengan tenang. Sejenak Andre menatap Rere dan tersenyum
penuh arti. Rere yang di perlakukan begitu menjadi salah tingkah dan wajahnya
memerah. Andre segera menancap gas dan melaju menuju tempat dimana temn-temannya
menunggu dan berkumpul. Mobil hitam yang tengah sedari tadi menunggu seseorang
segera ikut menancap gas sesaat setelah ia dilewati oleh sebuah mobil Sport
hitam milik seorang cowok yang sudah pasti adalah orang yang ditunggunya dari
tadi.
Sebuah tempat dimana lokasinya yang terpencil dan jauh
dari jalan raya dan sedikit kumuh berada tepat didepan Rere. Rasa panik juga
takut mulai menyelimuti Rere, pikiran-pikiran negatif mulai berkelebat
dibenaknya. ‘Tempat apa ini? Dan untuk apa pula Andre membawa gue kesini?
Tempatnya serem banget’ batin Rere.
“Ayo
Re!” Ajak Andre
“Iya!”
kata Rere dengan ragu
Rere memasuki tempat itu dengan sedikit merasa takut.
Andre yang menyadari rasa ketakutan Rere segera meraih tangan Rere dan
digenggamnya. Sejujurnya Andre tak mau membuat Rere seperti ini tetapi keadaan
yang memaksanya untuk melakukan ini. Rere duduk dekat Andre dan membiarkan
Andre memperkenalkan diri Rere kepada teman-temannya. Rere yang sempat kaget
melihat penampilan teman-teman Andre yang begitu awut-awutan segera menatap
penampilan Andre ‘Beda banget!’ batin Rere.
“Cantik
juga ndre!” kata salah satu temannya yang banyak tatto nya
“Ya
gitulah bang jeck” jawab Andre kepada salah satu temannya yang dipanggil bang
jeck itu.
“Yah
karena cewek elo udah disini gue kayaknya harus bayar apa yang gue janjiin ke
elo! Cewek lo nggak mau di ajak sekalian ni buat sedikit seneng-seneng” kata
salah seorang temannya lagi yang tindikan di tubuhnya banyak banget. Rere heran
banget sama ni orang’apa nggak sakit ya, kulitnya dilubang-lubangi gitu’ batin
Rere lagi.
“Jangan
dulu mas par, belum saatnya” jawab Andre lagi.
‘Apa lagi maksudnya? Kok gue jadi
makin takut’ batin Rere lagi. Mereka semua hanya tertawa, lalu mereka segera
berdiri dan menuju sebuah ruangan disamping tempat mereka berkumpul tadi. Rere
hanya sekilas melihat mereka sedang membuka bungkusan-bungkusan yang entah
isinya apa, dan Rere juga melihat ada beberapa jarum suntik yang berserakan.
Rere mulai semakin takut, tubuhnya mulai merinding. Pikiran-pikiran negatif
mengenai apa maksud dari kata-kata teman-teman Andre tadi mulai membayanginya.
Semakin Rere memikirkannya semakin pula ia bertambah takut. Ingin rasanya ia
berlari keluar tetapi takut nanti apabila terlihat ia akan diseret dan
diperlakukan kasar oleh mereka, lebih parah lagi apabila ia disuruh juga
mempraktekan apa yang mereka lakukan tadi.
Lama Nicky berkelebat dalam pikirannya sendiri. Dengan
ragu ia melangkahkan kakinya. Tempat itu tak terlalu ramai saat ini. Dengan
mengendap-endap ia melangkah. Baru saja selangkah ia memasuki jalan masuk yang
tadi ia lihat dilewati oleh Andre dan rere, Nicky melihat sosok pria yang
sedang terkapar di kursi dan ia tahu itu adalah Andre. “Astaga” gumamnya. Ia
baru sadar mereka yang berada dekat dengan Nicky saat itu juga terkapar tak
bergerak, seperti orang tidur. Dan ia tahu serta yakin penyebabnya adalah alat
suntik yang ada ditangan mereka dan juga berserakan di lantai, Nicky tahu kalau
mereka adalah para pecandu. Nicky baru tersadar kalau rere belum ia temukan, ia
takut Rere seperti mereka. Segera Nicky dengan was-was mencari sosok Rere.
“Mama....
Rere takut!” Gumam Rere sambil menangis dan memeluk lututnya.
“Re...!”
Teriak Nicky dengan setengah berbisik. Ia lalu berjalan mengahampiri Rere yang
masih bengong dengan mata yang berair,dan berjongkok dihadapan Rere.
“Nicky!”
“Lo
nggak apa-apa kan Re?” kata Nicky sambil mengusap air mata Rere. Rere segera
berdiri dan memeluk Nicky. Gerakan Rere yang tiba-tiba itu sanggup membuat
Nicky kaget.
“Gue
takut” gumam Rere di telinga Nicky
Nicky membalas pelukan Rere.
“Tenang
ya.. gue disini kok. Kita pulang ya!”
Mereka segera berjalan sambil mengendap-endap dan
menuju mobil Nicky dan segera pergi dari tempat itu dan segera pulang. Nicky
sempat melihat raut wajah Rere yang masih shock membuat hati Nicky perih juga
sakit. Cewek yang disukainya tak rela ia biarkan terluka. Dalam hati Nicky
berkata akan lebih menjaga Rere lagi dengan sepenuh hati.
Rere masih merasa belum siap untuk
masuk sekolah dan bertemu dengan Andre. Entah berapa kali sudah Andre
menghubungi Rere tapi Rere tak kunjung menyentuh Handphone nya. Pagi itu Rere
masih tetap mengurung dirinya didalam kamar. Semalam setelah diantar oleh Nicky, Rere terus saja menggenggam
tangan
Nicky hingga ia sampai dikamarnya. Membayangkan itu,
rona merah di pipi Rere
muncul. Tiba tiba pintu kamar Rere di ketuk seseorang,
nampak sebuah kepala menyeruak kedalam kamar dan orang itu berjalan memasuki
kamar Rere.
“Nicky!”
seru Rere.
“Gimana
Re... udah baikan?” tanya Nicky sambil duduk di pinggir tempat tidur Rere.
“Ummm..
Udah.. tapi gue masih males ketemu Andre dulu”
“Kalo
elo terus-terusan menjauh dari masalah ini, masalahnya nggak bakal
selesai-selesai kecuali dihadapi”
“Iya
sih!” Kata Rere ragu tetapi membenarkan
“ya
udah, ayo berangkat, lo udah mandi kan? Cepetan ganti baju, lo berangkat bareng
gue ke sekolah”
Rere masih diam di tempat sambil terus memandang
Nicky.
“Cepetan!”
“Gimana
gue mau ganti baju kalo elo masih diem disana, kecuali elo mau ngintip gue ganti
baju!”
“Oh
iya!”kata Nicky sambil nyengir, ia segera beranjak dari tempatnya tadi dan
menuju pintu, tetapi ia segera berbalik dan berkata “dan sorry aja, gue nggak
mau ngintip-ngintip cewek telanjang, kecuali.......” kata Nicky terpotong,
“.....kecuali ayam betina...gue ga perlu ngintip lagi karena setiap hari juga
dia telanjang dan nggak pernah malu”lanjut Nicky sambil tertawa dan pergi
meninggalkan kamar Rere. Tak terasa Rere juga tersenyum melihat Nicky seperti
itu.
Mobil
itu melaju kencang menuju SMA 26 Jakarta Selatan. Di dalam mobil tak ada
seorang pun yang membuka pembicaraan, hingga akhirnya mobil itu memasuki
pelataran parkir.
“Lo
mau gue anter ke kelas juga?” tanya Nicky
Rere tak menjawab ia hanya melangkah meninggalkan
Nicky. Nicky mengikuti Rere hingga ke kelas dengan disertai gemuruh suara
siulan dari beberapa siswa.
“Udah
nyampe Nicq, lo mau masuk juga ke kelas gue? Nggak kan?”
“Ya
udah gue ke kelas ya!”
Rere berjalan dan duduk di bangkunya. Teman-temannya
mulai mengerubunginya bak makanan yang dikerubungi lalat-lalat, tapi nggak pake
di telorin atau di POOP-in lalat ya!
“Cie..cie...”
Kata Omi nyeplos
“Apaan?”
tanya Rere ogah-ogahan
“Tu
kan bener elo kecantol juga sama kakak itu”
“Masya’allah...
kagak!” kata Rere sambil sedikit merengek
Semua teman-temannya tertawa. Tetapi rere berhasil
terselamatkan dari pertanyaan-pertanyaan konyol teman-temannya lagi karena bel
telah berbunyi dan itu artinya pelajaran dari guru killer yaitu pak Bagyo akan
segera dimulai.
Jam
istirahat terakhir telah tiba, Nicky yang baru saja merapikan bukunya menerima
telpon dari orang tuanya.
“Nicq
kamu pulang ya, ajak Rere juga, kita mau nyiapin acara pertunangan kalian”
“Kayaknya
jangan dulu pa.. Nicq belum ngomong apa-apa masalah perjodohan ini, papa yang
bilang sendiri biar Nicq yang ngasi tau ini semua ke Rere, dan bagi Nicq ini
belum saat yang tepat”
“Kamu
belu mbilang Nicq?” tanya papa nya kaget
“Belum
pa”
“Terpaksa
papa undur semua ini”
“Sebaiknya
begitu pa, Nicq juga belum tau Rere suka atau nggak sama Nicq” kata Nicky resah
“Ya
sudah, kalau begitu nanti malam undang Rere makan malam bersama kita di
restoran tempat biasa ya”
“Iya
pa...”
Setelah
menerima telpon itu Nicky berjalan menuju kelas Rere, sempat ia berpikir untuk
hanya mengiriminya pesan tetapi entah kenapa ia ingin langsung bicara pada
Rere. Nicky berjalan menuju tempat yang ditujunya tetapi saat ia melewati
sebuah WC yang lama sudah tak terpakai ( karena menurut siswa terlalu jauh dari
kelas dan tempat itupun jarang dilewati) Ia mendengar suara pria yang sedang
marah-marah. Awalnya ia tidak menghiraukan tetapi setelah mendengar suara yang
mirip suara Rere ia pun berhenti dan sekedar menguping.
#sekedar? Masak sih?#
“Gue
takut ndre... gue ngga mau kesana lagi apalagi diem disana lagi” isak Rere.
“Cuma
sekedar nungguin gue apa salahnya?”
Rere tak menjawab.
“Orang
tua gue juga udah nanyain elo, kalo gitu lo ikut ke rumah gue aja”
“Nggak
tau deh...” jawab Rere resah
“Kita
kan bisa berdua dirumah” kata Andre, sembari tangannya mulai memegang dasi Rere
untuk melepasnya, tetapi tidak keburu karena Rere segera menepis tangan Andre.
“Nggak
usah jual mahal deh Re...”
“Gue
mau ke kelas! Minggir!” Omel Rere dengan sedikit kasar, tetapi langkahnya
terhenti karena tangannya ditarik kembali oleh Andre. Andre mendekatkan tubuh
Rere ke tembok dan segera menciumi Rere sembari berusaha membuka kancing
bajunya dengan kasar. Rere terus memberontak tetapi tak kunjung berhasil
melepaskan diri. Rere mulai kehabisan tenaga untuk melawan dan ia mulai melemas
dan juga pasrah. Dibiarkannya ia diciumi dan Rere tetap menangis
Terasa
kerah baju Andre ditarik dan mukanya dengan cepat dipukul oleh Nicky.
“Jangan
ganggu dia!”
“Heh...elo
siapa? Gue ini pacarnya”
“Baru
jadi pacarnya cukup aja belagu lo. Gue tunangannya! Minggir lo! Lagi pula hari
ini hubungan kalian sampai disini” kata Nicky yang segera melayangkan tinjunya
yang terakhir dan mendorong Andre. Andre dengan tampang kagetnya langsung
berdiri dan meninggalkan Rere.
“Oke!
Saat ini gue kalah, tapi gue bakal terus berusaha buat kalian berdua sengsara!
Cewek kayak dia nggak cuma satu!”
“Berisik
lo” teriak Nicky
Nicky segera membetulkan baju Rere yang pemiliknya
sendiri sedang menangis. Dengan penuh perhatian Nicky merapikan rambut Rere dan
segera mengajaknya ke
bangku dekat
halaman sekolah yang tempatnya lumayan sepi. Dibiarkannya bahu
Nicky di pinjamkan sebagai sandaran dan tempat rere
melepaskan tangisnya. Nicky membelai rambut rere untuk sekedar menenangkannya.
5 menit Nicky membiarkan Rere menangis....
10 menit.....
15 menit....
Dan akhirnya Nicky tak tega melihat Rere yang masih
terisak,walau sudah agak redaan, mereka juga udah ketinggalan pelajaran. Dan
untungnya Nicky bertindak cepat, ia sempat mengambil handphone Rere yang sampai
sekarang masih dikantongnya yang tadinya handphone itu terjatuh saat kejadian
tadi. Ia segera mengirimi pesan kepada salah satu teman Rere yang di kotak
masuknya terdapat banyak pesan dari temannya, Nicky berpikir mungkin itu
sahabat Rere, maka dari itu Nicky segera memberi tahu bahwa Rere sakit jadi
harus pulang.
“Re.. elo udah nggak apa-apa kan?”
“Hmm..
iya!”
“Elo
mau ke kelas?”
Rere menggeleng
“Kalo
gitu kita pulang ya, biar nanti gue yang minta ijin sama guru piket kalo elo
lagi sakit” Kata Nicky sambil menarik tangan Rere. Rere hanya membiarkan
tangannya digenggam oleh Nicky. Tangan Rere masih saja gemetar karena hal yang
telah terjadi padanya. Nicky yang sedih melihat keadaan Rere yang masih trauma,
akhirnya lebih memilih untuk merangkul Rere dengan tangan kanannya serta tetap
menggenggam tangan Rere dengan tangannya yang bebas. Nicky tidak tega melihat
cewek yang disukainya dan kebetulan pula papa Nicky menjodohkan dirinya dengan
anak temannya. Awalnya ia tidak mau, maka dari itu ia tak langsung memasuki
rumah Rere. Setelah ia bertemu dengan Rere di halaman ia baru tahu kalau
ternyata anak teman papanya yang rencananya akan dijodohkan dengannya adalah
‘Rere’ cewek yang sejak dulu disukainya. Maka dari itu Nicky tak menolak saat dijodohkan
tapi ia hanya ragu apakah Rere memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya,
terlebih lagi bila Rere akan menentang perjodohan ini. Apa yang akan dilakukan
Nicky bila itu terjadi, makanya ia berusaha semampunya untuk mencurahkan segala
perhatiannya pada Rere dan selalu peduli juga khawatir pada Rere.
Di dalam mobil mereka tetap diam sampai akhirnya Rere
membuka pembicaraan dengan sekedar bertanya.
“Kita
mau kemana?” tanya Rere setelah ia tak lagi shock.
“Kita
ke mall dulu!” kata Nicky sambil tersenyum manis
“Mau
ngapain?”
“Beli
gaun baru buat lo dan kemeja baru buat gue, mama mau kita beli baju barengan
aja, mama pengen kita pake baju baru. Emang sih mama terlalu berlebihan tapi
itulah mama gue.”
“Lohh..
Untuk apaan?” tanya Rere bingung
“Oya
gue lupa bilang, papa ngundang elo makan malem, nanti rencananya sekalian dari
mall langsung OTW ke restoran papa. Dan ini handphone lo tadi gue pegang dulu
sementara.” Nicky menyerahkan handphone itu dan Rere meraihnya.
“Tapi
gue belom bilang ke Papa mama”
“Gue
udah bilang tadi, papa gue juga pasti udah bilang, nanti disangka nyulik elo
lagi”
“Tapi
gue kan belom mandi”
“Oiya
ya! Ya udah liat entar aja deh!” kata Nicky sambil tetap memamerkan senyumnya.
“Ya
udah deh” kata Rere, itung-itung ucapan terima kasih karena udah nolong Rere,
masak undangan orang di tolak.
Setelah
sampai di pelataran parkir salah satu mall di daerah Jakarta Selatan, mereka
turun dari mobil beriringan. Orang-orang yang berada disana reflex memandang
mereka berdua. Mereka memang pasangan yang cocok. Nicky sosok cowok yang bisa
dibilang almost perfect dengan badannya yang lumayan atletis, dada bidang,
wajah cakep,manis dan juga enak dipandang, belum lagi Nicky adalah orang yang
cukup berada.Nicky juga orang yang penuh perhatian, baik, dan juga sopan.
Sedangkan Rere cewek yang jadi salah satu cewek favorit disekolah, postur
tubuhnya juga cewek banget, kalo diibaratkan kayak biola Spanyol deh, tingginya
kalo dibandingin sama Nicky itu se-alis Nicky jadi lumayan tinggi juga, kulit
rere lumayan putih, wajah manis, jelita pula, apalagi ditambah rambutnya yang
panjang dan selalu terawat.Pokoknya mereka itu pasanagn yang cocok bagi
kebanyakan orang yang ngeliat mereka berdua,sekaligus pasangan yang bikin
pasangan-pasangan lain jadi iri.
Mereka
berjalan bergandengan menuju outlet gaun atau yang lebih bagus disebut butik.
Nicky segera menarik rere ke barisan gaun-gaun dan memilih-milih
untuk Rere.
“Hello
Nicq, kan gue yang mau make, kok elo yang ribet”
“Iya
sih, tapi gue Cuma pengen aja milihin gaun buat lo” kata Nicky sambil
tersenyum. Sebenarnya Nicky udah denger cerita tentang karakter Rere yang lucu
dari papa nya yaitu susah banget milih sesuatu,makanya Nicky membantu Rere buat
milih gaun. Pandangan Nicky tertuju pada sebuah gaun berwarna orange yang
warnanya nggak terlalu ngejreng tetapi baginya cocok untuk kulit Rere yang
lumayan putih. Nicky segera meraih gaun itu, tapi ternyata pikiran Rere pun
sama, sehingga tangan mereka bertaut, tetapi Rere segera menariknya.
“Dipasangin
belt kayaknya tambah bagus” kata mereka berbarengan, tak terasa rona wajah
mereka sesegera mungkin berubah seperti udang rebus. Akhirnya Nicky segera membawa gaun itu ke
kasir. Saat mereka berjalan menuju kasir, langkah kaki Rere terhenti karena tak
sengaja melihat sebuah kemeja yang disertai jas hitam yang menurutnya cowok
banget, diraihnya kemeja dan jas itu dan segera dibawanya ke kasir.
Mereka
keluar dari toko itu dan berjalan menuju food court untuk makan siang, memang
sudah lumayan sore untuk disebut makan siang tapi karena mereka belum makan
siang sebut saja itu makan siang.
“Ini
buat lo” kata mereka berbarengan lagi
Rere jadi makin salting kalo kayak gini jadinya.
“Ini
gaun lo” kata Nicky akhirnya setelah berhasil menguasai hatinya yang dag dig dug.
“Makasih”
kata Rere meraih tas yang berisi gaunnya. “Dan ini kemeja lo, gue nggak tau
selera lo tapi gue harap lo suka” kata Rere sambil menyerahkan tas berisi
kemeja, Nicky segera meraihnya.
“Lo
beli buat gue juga?” kata Nicky kaget
“Iya!
Semoga muat dibadan lo” kata Rere tersipu
Mereka berdua saling tersenyum. Dan kembali berjalan
menuju food court dengan perasaan masing masing yang masih tercampur aduk.
Betapa senangnya hati Nicky karena Rere sedikit tidaknya memperhatikan Nicky,
dan itu sebuah kemajuan. Rere yang tak bersuara sambil berjalan disamping Nicky
sebenarnya juga perasaannya tercampur-campur, ada rasa senang dan terharu,
hingga ia hanya bisa tersenyum.
Mereka
duduk ditempat yang kosong dan mulai mengobrol ria.
“Lo
mau mesen apa?”tanya Nicky
“Sama
kayak elo aja”
Nicky segera memesan makanan dan kembali membawa
nampan yang berisi 2 piring nasi goreng. Mereka segera melahap nasi goreng itu
tanpa ampun.
“Enak
kan?” kata Nicky setelah meneguk segelas es jeruk
“Laper
ya apapun dimakan enak”
“Iya
deh”
“Tapi
lumayan kok” kata Rere sambil tersenyum pada Nicky
“Kita
pulang sekarang?”tanya Nicky lagi
“Yuk...!”
Mereka langsung menuju mobil dan pulang. Tetapi
diperjalanan Nicky menerima telpon dari mamanya.
“Ya...ma?”
“Kamu
dimana”
“Lagi
dijalan mau pulang sama Rere ma, kenapa?”
Setelah menerima telpon Rere segera bertanya kepada
Nicky,
“Kenapa?”
“Mama
nyuruh lo mampir dulu ke rumah”
“Ohhh..”
-Bersambung-
Nah berhubung gue lama juga nggak
nge-upload chapter ketiga ini jadi untuk hari ini kayaknya double upload deh
sampai final chapter alias chapter terakhir, jadi selamat membaca.