Kamis, 24 April 2014

Love is Choise - chapter 3 (by: Wahyunie)


Kemarin malam adalah hari yang benar-benar membuat Rere shock sekaligus senang, menurutnya kemarin itu menandakan hubungan Andre dan dirinya telah disetujui oleh orang tua Andre, jadi mereka nggak perlu ngumpet-ngumpet lagi kalo mau jalan atau ngapain.
            Disekolah Rere bercerita pada sahabatnya Omi, Omi yang mendengar hanya bisa ngangguk-ngangguk kayak ayam mabuk. Jelas aja Rere itu ngoceh nggak ada titik komanya. Heran deh.
            “Stop Re..Stop..Enough! lo ngulang kata-kata lo ampe 10x! Gue udah ngerti kok, nggak perlu di ulang lagi.Oke” kata Omi sedikit jengkel.
Rere hanya nyengir dan berkata, “Gue seneng tau”.
Omi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya yang satu ini.
            Sepulang sekolah, Rere dicegat oleh Andre dan segera menarik Rere ke dalam mobil Andre yang terparkir di bawah pohon agak jauh dari sekolah,dan tempatnya pun sepi.
            “Ada apa ndre?”
            “Nanti malem gue mau ngenalin lo sama temen-temen nongkrong gue. Mau apa nggak?”
            “Ya boleh aja sih..tapi...”
            “Oke, nanti gue jemput, sekarang elo boleh keluar dari mobil ini”
Rere hanya menurut. ‘Ada apa sih?’ batin Rere.
            Diperjalanan pulang Rere masih tetap memikirkan kejadian tadi, ada apa sesungguhnya dengan Andre. Sesampainya dirumah Rere langsung menjatuhkan tubuhnya ditempat tidur.
            “Kenapa sih dia, tiba-tiba kayak penjahat yang narik orang seketika lalu entar nya ngusir!”kata Rere mengeluh.

Kletok
Rere terkejut disaat sebuah batu kerikil dilemparkan ke jendela kamar Rere, Rere perlahan menuju jendela itu dan melongokkan kepalanya pada saat itu juga sebuah Kerikil kembali terlempar dan kini kerikil itu sukses medarat di kepala Rere.
            “Aduh...!”jerit Rere
            “Ups.. Maaf Re! Habis..lo lama banget keluarnya!” Teriak Nicky dari halaman rumahnya.
            “Hissshhh.. Apa-apaan sih lo? Untung batunya kecil coba kalo segede kelapa bisa pecah kepala gue!”
            “Hihihi... Maaf!” kata Nicky nyengir
            “Ada apa?” tanya Rere lagi
            “Lo ada acara nggak? Gue mau ngajak lo makan, ada ayam bakar enak lho yang dijual deket-deket sini!”
            “Gue mau jalan ntar sama Andre! Lain kali deh ya!” kata Rere sambil mengukir senyum di bibirnya.
            “Oke!”
            Kamar Nicky bisa dibilang cukup luas, banyak alat elektronik disana, kamar itu kini hening, entah apa yang sedang dilakukan pemiliknya. Terlihat sosok Nicky yang sedang diam dan terhanyut dalam pikirannya sendiri, ia duduk di pinggiran jendela sembari menatap hamparan rumah-rumah yang lain.
            “Kenapa gue khawatir ya?” Gumam Nicky
            “Gue harus ngelakuin sesuatu” gumamnya lagi
            Waktu kini telah menunjukkan jam 7 malam. Nampak dari kejauhan sebuah mobil menuju kearah rumah Rere, dan tepat berhenti di depan rumah Rere.
            “Ma... Re berangkat ya!” Teriak Rere
            “Ya.. Hati-hati ya sayang jangan kemaleman pulangnya!” jawab mama Rere
Rere segera masuk kedalam mobil Andre dan tetap duduk dengan tenang. Sejenak Andre menatap Rere dan tersenyum penuh arti. Rere yang di perlakukan begitu menjadi salah tingkah dan wajahnya memerah. Andre segera menancap gas dan melaju menuju tempat dimana temn-temannya menunggu dan berkumpul. Mobil hitam yang tengah sedari tadi menunggu seseorang segera ikut menancap gas sesaat setelah ia dilewati oleh sebuah mobil Sport hitam milik seorang cowok yang sudah pasti adalah orang yang ditunggunya dari tadi.
Sebuah tempat dimana lokasinya yang terpencil dan jauh dari jalan raya dan sedikit kumuh berada tepat didepan Rere. Rasa panik juga takut mulai menyelimuti Rere, pikiran-pikiran negatif mulai berkelebat dibenaknya. ‘Tempat apa ini? Dan untuk apa pula Andre membawa gue kesini? Tempatnya serem banget’ batin Rere.
            “Ayo Re!” Ajak Andre
            “Iya!” kata Rere dengan ragu
Rere memasuki tempat itu dengan sedikit merasa takut. Andre yang menyadari rasa ketakutan Rere segera meraih tangan Rere dan digenggamnya. Sejujurnya Andre tak mau membuat Rere seperti ini tetapi keadaan yang memaksanya untuk melakukan ini. Rere duduk dekat Andre dan membiarkan Andre memperkenalkan diri Rere kepada teman-temannya. Rere yang sempat kaget melihat penampilan teman-teman Andre yang begitu awut-awutan segera menatap penampilan Andre ‘Beda banget!’ batin Rere.
            “Cantik juga ndre!” kata salah satu temannya yang banyak tatto nya
            “Ya gitulah bang jeck” jawab Andre kepada salah satu temannya yang dipanggil bang jeck itu.
            “Yah karena cewek elo udah disini gue kayaknya harus bayar apa yang gue janjiin ke elo! Cewek lo nggak mau di ajak sekalian ni buat sedikit seneng-seneng” kata salah seorang temannya lagi yang tindikan di tubuhnya banyak banget. Rere heran banget sama ni orang’apa nggak sakit ya, kulitnya dilubang-lubangi gitu’ batin Rere lagi.
            “Jangan dulu mas par, belum saatnya” jawab Andre lagi.
‘Apa lagi maksudnya? Kok gue jadi makin takut’ batin Rere lagi. Mereka semua hanya tertawa, lalu mereka segera berdiri dan menuju sebuah ruangan disamping tempat mereka berkumpul tadi. Rere hanya sekilas melihat mereka sedang membuka bungkusan-bungkusan yang entah isinya apa, dan Rere juga melihat ada beberapa jarum suntik yang berserakan. Rere mulai semakin takut, tubuhnya mulai merinding. Pikiran-pikiran negatif mengenai apa maksud dari kata-kata teman-teman Andre tadi mulai membayanginya. Semakin Rere memikirkannya semakin pula ia bertambah takut. Ingin rasanya ia berlari keluar tetapi takut nanti apabila terlihat ia akan diseret dan diperlakukan kasar oleh mereka, lebih parah lagi apabila ia disuruh juga mempraktekan apa yang mereka lakukan tadi.
Lama Nicky berkelebat dalam pikirannya sendiri. Dengan ragu ia melangkahkan kakinya. Tempat itu tak terlalu ramai saat ini. Dengan mengendap-endap ia melangkah. Baru saja selangkah ia memasuki jalan masuk yang tadi ia lihat dilewati oleh Andre dan rere, Nicky melihat sosok pria yang sedang terkapar di kursi dan ia tahu itu adalah Andre. “Astaga” gumamnya. Ia baru sadar mereka yang berada dekat dengan Nicky saat itu juga terkapar tak bergerak, seperti orang tidur. Dan ia tahu serta yakin penyebabnya adalah alat suntik yang ada ditangan mereka dan juga berserakan di lantai, Nicky tahu kalau mereka adalah para pecandu. Nicky baru tersadar kalau rere belum ia temukan, ia takut Rere seperti mereka. Segera Nicky dengan was-was mencari sosok Rere.
            “Mama.... Rere takut!” Gumam Rere sambil menangis dan memeluk lututnya.
            “Re...!” Teriak Nicky dengan setengah berbisik. Ia lalu berjalan mengahampiri Rere yang masih bengong dengan mata yang berair,dan berjongkok dihadapan Rere.
            “Nicky!”
            “Lo nggak apa-apa kan Re?” kata Nicky sambil mengusap air mata Rere. Rere segera berdiri dan memeluk Nicky. Gerakan Rere yang tiba-tiba itu sanggup membuat Nicky kaget.
            “Gue takut” gumam Rere di telinga Nicky
Nicky membalas pelukan Rere.
            “Tenang ya.. gue disini kok. Kita pulang ya!”
Mereka segera berjalan sambil mengendap-endap dan menuju mobil Nicky dan segera pergi dari tempat itu dan segera pulang. Nicky sempat melihat raut wajah Rere yang masih shock membuat hati Nicky perih juga sakit. Cewek yang disukainya tak rela ia biarkan terluka. Dalam hati Nicky berkata akan lebih menjaga Rere lagi dengan sepenuh hati.

Rere masih merasa belum siap untuk masuk sekolah dan bertemu dengan Andre. Entah berapa kali sudah Andre menghubungi Rere tapi Rere tak kunjung menyentuh Handphone nya. Pagi itu Rere masih tetap mengurung dirinya didalam kamar. Semalam setelah diantar oleh Nicky, Rere terus saja menggenggam tangan
Nicky hingga ia sampai dikamarnya. Membayangkan itu, rona merah di pipi Rere
muncul. Tiba tiba pintu kamar Rere di ketuk seseorang, nampak sebuah kepala menyeruak kedalam kamar dan orang itu berjalan memasuki kamar Rere.
            “Nicky!” seru Rere.
            “Gimana Re... udah baikan?” tanya Nicky sambil duduk di pinggir tempat tidur Rere.
            “Ummm.. Udah.. tapi gue masih males ketemu Andre dulu”
            “Kalo elo terus-terusan menjauh dari masalah ini, masalahnya nggak bakal selesai-selesai kecuali dihadapi”
            “Iya sih!” Kata Rere ragu tetapi membenarkan
            “ya udah, ayo berangkat, lo udah mandi kan? Cepetan ganti baju, lo berangkat bareng gue ke sekolah”
Rere masih diam di tempat sambil terus memandang Nicky.
            “Cepetan!”
            “Gimana gue mau ganti baju kalo elo masih diem disana, kecuali elo mau ngintip gue ganti baju!”
            “Oh iya!”kata Nicky sambil nyengir, ia segera beranjak dari tempatnya tadi dan menuju pintu, tetapi ia segera berbalik dan berkata “dan sorry aja, gue nggak mau ngintip-ngintip cewek telanjang, kecuali.......” kata Nicky terpotong, “.....kecuali ayam betina...gue ga perlu ngintip lagi karena setiap hari juga dia telanjang dan nggak pernah malu”lanjut Nicky sambil tertawa dan pergi meninggalkan kamar Rere. Tak terasa Rere juga tersenyum melihat Nicky seperti itu.
            Mobil itu melaju kencang menuju SMA 26 Jakarta Selatan. Di dalam mobil tak ada seorang pun yang membuka pembicaraan, hingga akhirnya mobil itu memasuki pelataran parkir.
            “Lo mau gue anter ke kelas juga?” tanya Nicky
Rere tak menjawab ia hanya melangkah meninggalkan Nicky. Nicky mengikuti Rere hingga ke kelas dengan disertai gemuruh suara siulan dari beberapa siswa.
            “Udah nyampe Nicq, lo mau masuk juga ke kelas gue? Nggak kan?”
            “Ya udah gue ke kelas ya!”
Rere berjalan dan duduk di bangkunya. Teman-temannya mulai mengerubunginya bak makanan yang dikerubungi lalat-lalat, tapi nggak pake di telorin atau di POOP-in lalat ya!
            “Cie..cie...” Kata Omi nyeplos
            “Apaan?” tanya Rere ogah-ogahan
            “Tu kan bener elo kecantol juga sama kakak itu”
            “Masya’allah... kagak!” kata Rere sambil sedikit merengek
Semua teman-temannya tertawa. Tetapi rere berhasil terselamatkan dari pertanyaan-pertanyaan konyol teman-temannya lagi karena bel telah berbunyi dan itu artinya pelajaran dari guru killer yaitu pak Bagyo akan segera dimulai.
            Jam istirahat terakhir telah tiba, Nicky yang baru saja merapikan bukunya menerima telpon dari orang tuanya.
            “Nicq kamu pulang ya, ajak Rere juga, kita mau nyiapin acara pertunangan kalian”
            “Kayaknya jangan dulu pa.. Nicq belum ngomong apa-apa masalah perjodohan ini, papa yang bilang sendiri biar Nicq yang ngasi tau ini semua ke Rere, dan bagi Nicq ini belum saat yang tepat”
            “Kamu belu mbilang Nicq?” tanya papa nya kaget
            “Belum pa”
            “Terpaksa papa undur semua ini”
            “Sebaiknya begitu pa, Nicq juga belum tau Rere suka atau nggak sama Nicq” kata Nicky resah
            “Ya sudah, kalau begitu nanti malam undang Rere makan malam bersama kita di restoran tempat biasa ya”
            “Iya pa...”
            Setelah menerima telpon itu Nicky berjalan menuju kelas Rere, sempat ia berpikir untuk hanya mengiriminya pesan tetapi entah kenapa ia ingin langsung bicara pada Rere. Nicky berjalan menuju tempat yang ditujunya tetapi saat ia melewati sebuah WC yang lama sudah tak terpakai ( karena menurut siswa terlalu jauh dari kelas dan tempat itupun jarang dilewati) Ia mendengar suara pria yang sedang marah-marah. Awalnya ia tidak menghiraukan tetapi setelah mendengar suara yang mirip suara Rere ia pun berhenti dan sekedar menguping.
#sekedar? Masak sih?#
            “Gue takut ndre... gue ngga mau kesana lagi apalagi diem disana lagi” isak Rere.
            “Cuma sekedar nungguin gue apa salahnya?”
Rere tak menjawab.
            “Orang tua gue juga udah nanyain elo, kalo gitu lo ikut ke rumah gue aja”
            “Nggak tau deh...” jawab Rere resah
            “Kita kan bisa berdua dirumah” kata Andre, sembari tangannya mulai memegang dasi Rere untuk melepasnya, tetapi tidak keburu karena Rere segera menepis tangan Andre.
            “Nggak usah jual mahal deh Re...”
            “Gue mau ke kelas! Minggir!” Omel Rere dengan sedikit kasar, tetapi langkahnya terhenti karena tangannya ditarik kembali oleh Andre. Andre mendekatkan tubuh Rere ke tembok dan segera menciumi Rere sembari berusaha membuka kancing bajunya dengan kasar. Rere terus memberontak tetapi tak kunjung berhasil melepaskan diri. Rere mulai kehabisan tenaga untuk melawan dan ia mulai melemas dan juga pasrah. Dibiarkannya ia diciumi dan Rere tetap menangis
            Terasa kerah baju Andre ditarik dan mukanya dengan cepat dipukul oleh Nicky.
            “Jangan ganggu dia!”
            “Heh...elo siapa? Gue ini pacarnya”
            “Baru jadi pacarnya cukup aja belagu lo. Gue tunangannya! Minggir lo! Lagi pula hari ini hubungan kalian sampai disini” kata Nicky yang segera melayangkan tinjunya yang terakhir dan mendorong Andre. Andre dengan tampang kagetnya langsung berdiri dan meninggalkan Rere.
            “Oke! Saat ini gue kalah, tapi gue bakal terus berusaha buat kalian berdua sengsara! Cewek kayak dia nggak cuma satu!”
            “Berisik lo” teriak Nicky
Nicky segera membetulkan baju Rere yang pemiliknya sendiri sedang menangis. Dengan penuh perhatian Nicky merapikan rambut Rere dan segera mengajaknya ke
bangku dekat halaman sekolah yang tempatnya lumayan sepi. Dibiarkannya bahu
Nicky di pinjamkan sebagai sandaran dan tempat rere melepaskan tangisnya. Nicky membelai rambut rere untuk sekedar menenangkannya.
5 menit Nicky membiarkan Rere menangis....
10 menit.....
15 menit....
Dan akhirnya Nicky tak tega melihat Rere yang masih terisak,walau sudah agak redaan, mereka juga udah ketinggalan pelajaran. Dan untungnya Nicky bertindak cepat, ia sempat mengambil handphone Rere yang sampai sekarang masih dikantongnya yang tadinya handphone itu terjatuh saat kejadian tadi. Ia segera mengirimi pesan kepada salah satu teman Rere yang di kotak masuknya terdapat banyak pesan dari temannya, Nicky berpikir mungkin itu sahabat Rere, maka dari itu Nicky segera memberi tahu bahwa Rere sakit jadi harus pulang.
            “Re.. elo udah nggak apa-apa kan?”
            “Hmm.. iya!”
            “Elo mau ke kelas?”
Rere menggeleng
            “Kalo gitu kita pulang ya, biar nanti gue yang minta ijin sama guru piket kalo elo lagi sakit” Kata Nicky sambil menarik tangan Rere. Rere hanya membiarkan tangannya digenggam oleh Nicky. Tangan Rere masih saja gemetar karena hal yang telah terjadi padanya. Nicky yang sedih melihat keadaan Rere yang masih trauma, akhirnya lebih memilih untuk merangkul Rere dengan tangan kanannya serta tetap menggenggam tangan Rere dengan tangannya yang bebas. Nicky tidak tega melihat cewek yang disukainya dan kebetulan pula papa Nicky menjodohkan dirinya dengan anak temannya. Awalnya ia tidak mau, maka dari itu ia tak langsung memasuki rumah Rere. Setelah ia bertemu dengan Rere di halaman ia baru tahu kalau ternyata anak teman papanya yang rencananya akan dijodohkan dengannya adalah ‘Rere’ cewek yang sejak dulu disukainya. Maka dari itu Nicky tak menolak saat dijodohkan tapi ia hanya ragu apakah Rere memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya, terlebih lagi bila Rere akan menentang perjodohan ini. Apa yang akan dilakukan Nicky bila itu terjadi, makanya ia berusaha semampunya untuk mencurahkan segala perhatiannya pada Rere dan selalu peduli juga khawatir pada Rere.
Di dalam mobil mereka tetap diam sampai akhirnya Rere membuka pembicaraan dengan sekedar bertanya.
            “Kita mau kemana?” tanya Rere setelah ia tak lagi shock.
            “Kita ke mall dulu!” kata Nicky sambil tersenyum manis
            “Mau ngapain?”
            “Beli gaun baru buat lo dan kemeja baru buat gue, mama mau kita beli baju barengan aja, mama pengen kita pake baju baru. Emang sih mama terlalu berlebihan tapi itulah mama gue.”
            “Lohh.. Untuk apaan?” tanya Rere bingung
            “Oya gue lupa bilang, papa ngundang elo makan malem, nanti rencananya sekalian dari mall langsung OTW ke restoran papa. Dan ini handphone lo tadi gue pegang dulu sementara.” Nicky menyerahkan handphone itu dan Rere meraihnya.
            “Tapi gue belom bilang ke Papa mama”
            “Gue udah bilang tadi, papa gue juga pasti udah bilang, nanti disangka nyulik elo lagi”
            “Tapi gue kan belom mandi”
            “Oiya ya! Ya udah liat entar aja deh!” kata Nicky sambil tetap memamerkan senyumnya.
            “Ya udah deh” kata Rere, itung-itung ucapan terima kasih karena udah nolong Rere, masak undangan orang di tolak.
            Setelah sampai di pelataran parkir salah satu mall di daerah Jakarta Selatan, mereka turun dari mobil beriringan. Orang-orang yang berada disana reflex memandang mereka berdua. Mereka memang pasangan yang cocok. Nicky sosok cowok yang bisa dibilang almost perfect dengan badannya yang lumayan atletis, dada bidang, wajah cakep,manis dan juga enak dipandang, belum lagi Nicky adalah orang yang cukup berada.Nicky juga orang yang penuh perhatian, baik, dan juga sopan. Sedangkan Rere cewek yang jadi salah satu cewek favorit disekolah, postur tubuhnya juga cewek banget, kalo diibaratkan kayak biola Spanyol deh, tingginya kalo dibandingin sama Nicky itu se-alis Nicky jadi lumayan tinggi juga, kulit rere lumayan putih, wajah manis, jelita pula, apalagi ditambah rambutnya yang panjang dan selalu terawat.Pokoknya mereka itu pasanagn yang cocok bagi kebanyakan orang yang ngeliat mereka berdua,sekaligus pasangan yang bikin pasangan-pasangan lain jadi iri.
            Mereka berjalan bergandengan menuju outlet gaun atau yang lebih bagus disebut butik. Nicky segera menarik rere ke barisan gaun-gaun dan memilih-milih
untuk Rere.
            “Hello Nicq, kan gue yang mau make, kok elo yang ribet”
            “Iya sih, tapi gue Cuma pengen aja milihin gaun buat lo” kata Nicky sambil tersenyum. Sebenarnya Nicky udah denger cerita tentang karakter Rere yang lucu dari papa nya yaitu susah banget milih sesuatu,makanya Nicky membantu Rere buat milih gaun. Pandangan Nicky tertuju pada sebuah gaun berwarna orange yang warnanya nggak terlalu ngejreng tetapi baginya cocok untuk kulit Rere yang lumayan putih. Nicky segera meraih gaun itu, tapi ternyata pikiran Rere pun sama, sehingga tangan mereka bertaut, tetapi Rere segera menariknya.
            “Dipasangin belt kayaknya tambah bagus” kata mereka berbarengan, tak terasa rona wajah mereka sesegera mungkin berubah seperti udang rebus.  Akhirnya Nicky segera membawa gaun itu ke kasir. Saat mereka berjalan menuju kasir, langkah kaki Rere terhenti karena tak sengaja melihat sebuah kemeja yang disertai jas hitam yang menurutnya cowok banget, diraihnya kemeja dan jas itu dan segera dibawanya ke kasir.
            Mereka keluar dari toko itu dan berjalan menuju food court untuk makan siang, memang sudah lumayan sore untuk disebut makan siang tapi karena mereka belum makan siang sebut saja itu makan siang.
            “Ini buat lo” kata mereka berbarengan lagi
Rere jadi makin salting kalo kayak gini jadinya.
            “Ini gaun lo” kata Nicky akhirnya setelah berhasil menguasai hatinya yang dag dig dug.
            “Makasih” kata Rere meraih tas yang berisi gaunnya. “Dan ini kemeja lo, gue nggak tau selera lo tapi gue harap lo suka” kata Rere sambil menyerahkan tas berisi kemeja, Nicky segera meraihnya.
            “Lo beli buat gue juga?” kata Nicky kaget
            “Iya! Semoga muat dibadan lo” kata Rere tersipu
Mereka berdua saling tersenyum. Dan kembali berjalan menuju food court dengan perasaan masing masing yang masih tercampur aduk. Betapa senangnya hati Nicky karena Rere sedikit tidaknya memperhatikan Nicky, dan itu sebuah kemajuan. Rere yang tak bersuara sambil berjalan disamping Nicky sebenarnya juga perasaannya tercampur-campur, ada rasa senang dan terharu, hingga ia hanya bisa tersenyum.
            Mereka duduk ditempat yang kosong dan mulai mengobrol ria.
            “Lo mau mesen apa?”tanya Nicky
            “Sama kayak elo aja”
Nicky segera memesan makanan dan kembali membawa nampan yang berisi 2 piring nasi goreng. Mereka segera melahap nasi goreng itu tanpa ampun.
            “Enak kan?” kata Nicky setelah meneguk segelas es jeruk
            “Laper ya apapun dimakan enak”
            “Iya deh”
            “Tapi lumayan kok” kata Rere sambil tersenyum pada Nicky
            “Kita pulang sekarang?”tanya Nicky lagi
            “Yuk...!”
Mereka langsung menuju mobil dan pulang. Tetapi diperjalanan Nicky menerima telpon dari mamanya.
            “Ya...ma?”
            “Kamu dimana”
            “Lagi dijalan mau pulang sama Rere ma, kenapa?”
Setelah menerima telpon Rere segera bertanya kepada Nicky,
            “Kenapa?”
            “Mama nyuruh lo mampir dulu ke rumah”
            “Ohhh..”
-Bersambung-

Nah berhubung gue lama juga nggak nge-upload chapter ketiga ini jadi untuk hari ini kayaknya double upload deh sampai final chapter alias chapter terakhir, jadi selamat membaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar