Bangsa
Indonesia merupakan salah satu bangsa yang pernah mengalami masa kolonialisme.
Selama masa kolonialisme ini berlangsung, rakyat Indonesia mengalami
kesengsaraan dan penderitaan. Dengan menyatukan tekad, jiwa yang
tadinya mengalami penderitaan dan kesengsaraan kini mereka bangkit dan
menyatukan diri untuk melawan para penjajah. Dengan adanya semangat untuk bebas
dari penderitaan maka jiwa patriotisme pejuang bangkit dalam bentuk jiwa
kesetiakawanan sosial yang tinggi, disertai kerelaan untuk berkorban demi
mencapai kemerdekaan Indonesia dan mempersatukan bangsa untuk melawan para
penjajah. Dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia,
para pejuang bangsa rela mengorbankan nyawa mereka untuk melindungi bangsanya
dari serangan-serangan bangsa penjajah. Dengan menjunjung rasa kesetiakawanan
dan solidaritas mereka berhasil mengalahkan bangsa penjajah.
Kesetiakawanan,
sebuah kata yang tidak asing lagi untuk didengar. Dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah
Pertama, Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi, kata kesetiakawanan selalu
pernah didengar. Kesetiakawanan pada dasarnya berasal dari kata setiakawan yang
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki makna perasaan bersatu,
sependapat dan sekepentingan, atau solider. Dari arti kata setiakawan dapat
disimpulkan bahwa kesetiakawanan merupakan perihal dalam setia kawan, rasa
solidaritas, tenggang rasa yang sanggup merasakan dan ditunjukkan dalam bentuk
toleransi kepada orang lain, rela berkorban, serta bersedia mengulurkan tangan
apabila diperlukan.
Dalam
sejarah, bangsa Indonesia memiliki semangat patriotisme, kesetiakawanan sosial,
dan rasa solider yang tinggi. Nilai-nilai kesetiakawanan sosial seperti inilah
yang menjadi landasan tumbuhnya kekuatan nasionalisme. Kesetiakawanan dalam hal
ini merupakan kesetiakawanan yang berdasar pada kesamaan nasib dan kesamaan
tujuan untuk meraih yang diinginkan. Dengan adanya rasa kesetiakawanan yang
tumbuh di dalam diri masing-masing orang akan membuat persatuan dan kesatuan
bangsa menjadi semakin erat, selain itu bangsa Indonesia akan menjadi bangsa
yang aman, damai, tentram, serta persatuan dan kesatuan yang dimiliki tak akan
mudah dipecahkan. Tetapi, bagaimana dengan Indonesia yang sekarang? Apakah rasa
kesetiakawanan yang dimiliki mampu untuk merekatkan persatuan bangsa?.
Bangsa
Indonesia kini tidak seperti bangsa Indonesia dahulu yang semangat persatuan
dan kesatuannya teramat tinggi. Ini terbukti dengan adanya tawuran antarpelajar
dan juga bentrok antardesa. Zaman dahulu, pahlawan kita rela mengorbankan
dirinya untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Tetapi, zaman sekarang orang yang
menganggap dirinya seorang pahlawan bahkan sebaliknya, mereka mengorbankan
nyawa orang lain untuk menyelamatkan dirinya beserta kelompoknya.
Kesetiakawanan yang mereka miliki bukanlah kesetiakawanan dalam hal positif
seperti yang dilakukan pahlawan kita untuk meraih kemerdekaan, melainkan
kesetiakawanan negatif lah yang dimilikinya. Berawal dari masalah kecil
antarindividu, lalu saling pukul, kemudian berlanjut dengan konflik
antarkelompok karena merasa tidak terima rekannya dipukuli, dan pada akhirnya
terwujudlah sebuah tawuran yang mengakibatkan pertumpahan darah. Hal inilah yang membuat persatuan dan
kesatuan bangsa Indonesia mulai terpecah. Betapa besar pengorbanan dan
perjuangan para pahlawan untuk membuat negara ini bebas dari bangsa penjajah,
tetapi pada akhirnya seperti inilah yang terjadi, rakyat Indonesia sendiri yang
menjajah bangsanya. Kericuhan dan keributan dimana-mana, bentrok antardesa dan
juga tawuran antarpelajar sering terjadi. Seorang pelajar seharusnya menjadi
generasi muda berbakat yang akan menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang maju,
generasi muda seharusnya menjadi generasi penerus yang menciptakan kedamaian
dan ketentraman di negaranya serta generasi muda yang mampu membangkitkan
semangat patriotisme, dan memberikan ide-ide cemerlang untuk membangkitkan
Indonesia dari kesenjangan sosial. Generasi muda merupakan jembatan untuk
mencapai perdamaian dunia.
Bali
memiliki sebuah konsep keselarasan dalam kehidupan yang disebut dengan Tri Hita
Karana. Dengan adanya konsep ini kita tahu bahwa kita sebagai makhluk ciptaan
Tuhan memiliki banyak hubungan yang dapat menguntungkan satu sama lain. Mengapa
kita tidak memanfaatkannya sebagai sarana merekatkan persatuan dan kesatuan
bangsa terutama dalam hubungan manusia dengan sesama manusia. Manusia merupakan
makhluk sosial yang tidak lepas dari saling membutuhkan satu sama lain, tidak
ada manusia yang sanggup untuk hidup sendiri. Kini kita tahu bahwa hubungan
baik sesama manusia merupakan salah satu sarana untuk memiliki rasa
kesetiakawanan. Kalau kita tidak memiliki hubungan dengan sesama manusia tidak
akan tercipta yang namanya ‘teman’ dan tidak pula tercipta solidaritas.
Solidaritas harus dimulai dengan kesediaan kita untuk memasang mata, telinga
dan mulut terhadap wajah remuk, jeritan, dan suara senyap orang yang
membutuhkan bantuan. Kita harus menyadarkan masyarakat akan pentingnya rasa
solidaritas sesama manusia.
Rasa
kesetiakawanan yang baik haruslah ditanamkan sejak usia dini, itu semua demi
mencegah kesetiakawanan yang negatif mengambil alih hati nurani dan kesadaran
diri untuk saling tolong menolong. Menanamkan kesetiakawanan dapat dimulai dari
lingkungan keluarga, sekolah, teman sepermainan dan juga masyarakat. Diharapkan
dengan ditanamkannya rasa setiakawan sejak dini akan mampu menumbuhkan jiwa
patriotisme, nasionalime dan juga semangat perjuangan yang tinggi seperti saat
perjuangan para pahlawan untuk menciptakan kemerdekaan, demi terciptanya
persatuan dan kesatuan bangsa yang utuh. Kesetiakawanan merupakan sarana yang
tepat untuk merekatkan kesatuan bangsa yang kini sudah mulai menghilang. Jadi, dengan
adanya kesetiakawanan sosial yang tumbuh pada diri masing-masing orang akan
membuat bangsa kita menjadi bangsa yang kuat dan juga bangsa yang maju.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar