Senin, 10 Maret 2014

Kesetiakawanan sebagai Perekat Kesatuan Bangsa


       Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa yang pernah mengalami masa kolonialisme. Selama masa kolonialisme ini berlangsung, rakyat Indonesia mengalami kesengsaraan dan penderitaan. Dengan menyatukan tekad, jiwa yang tadinya mengalami penderitaan dan kesengsaraan kini mereka bangkit dan menyatukan diri untuk melawan para penjajah. Dengan adanya semangat untuk bebas dari penderitaan maka jiwa patriotisme pejuang bangkit dalam bentuk jiwa kesetiakawanan sosial yang tinggi, disertai kerelaan untuk berkorban demi mencapai kemerdekaan Indonesia dan mempersatukan bangsa untuk melawan para penjajah. Dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, para pejuang bangsa rela mengorbankan nyawa mereka untuk melindungi bangsanya dari serangan-serangan bangsa penjajah. Dengan menjunjung rasa kesetiakawanan dan solidaritas mereka berhasil mengalahkan bangsa penjajah.
Kesetiakawanan, sebuah kata yang tidak asing lagi untuk didengar. Dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi, kata kesetiakawanan selalu pernah didengar. Kesetiakawanan pada dasarnya berasal dari kata setiakawan yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki makna perasaan bersatu, sependapat dan sekepentingan, atau solider. Dari arti kata setiakawan dapat disimpulkan bahwa kesetiakawanan merupakan perihal dalam setia kawan, rasa solidaritas, tenggang rasa yang sanggup merasakan dan ditunjukkan dalam bentuk toleransi kepada orang lain, rela berkorban, serta bersedia mengulurkan tangan apabila diperlukan.
Dalam sejarah, bangsa Indonesia memiliki semangat patriotisme, kesetiakawanan sosial, dan rasa solider yang tinggi. Nilai-nilai kesetiakawanan sosial seperti inilah yang menjadi landasan tumbuhnya kekuatan nasionalisme. Kesetiakawanan dalam hal ini merupakan kesetiakawanan yang berdasar pada kesamaan nasib dan kesamaan tujuan untuk meraih yang diinginkan. Dengan adanya rasa kesetiakawanan yang tumbuh di dalam diri masing-masing orang akan membuat persatuan dan kesatuan bangsa menjadi semakin erat, selain itu bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang aman, damai, tentram, serta persatuan dan kesatuan yang dimiliki tak akan mudah dipecahkan. Tetapi, bagaimana dengan Indonesia yang sekarang? Apakah rasa kesetiakawanan yang dimiliki mampu untuk merekatkan persatuan bangsa?.
Bangsa Indonesia kini tidak seperti bangsa Indonesia dahulu yang semangat persatuan dan kesatuannya teramat tinggi. Ini terbukti dengan adanya tawuran antarpelajar dan juga bentrok antardesa. Zaman dahulu, pahlawan kita rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Tetapi, zaman sekarang orang yang menganggap dirinya seorang pahlawan bahkan sebaliknya, mereka mengorbankan nyawa orang lain untuk menyelamatkan dirinya beserta kelompoknya. Kesetiakawanan yang mereka miliki bukanlah kesetiakawanan dalam hal positif seperti yang dilakukan pahlawan kita untuk meraih kemerdekaan, melainkan kesetiakawanan negatif lah yang dimilikinya. Berawal dari masalah kecil antarindividu, lalu saling pukul, kemudian berlanjut dengan konflik antarkelompok karena merasa tidak terima rekannya dipukuli, dan pada akhirnya terwujudlah sebuah tawuran yang mengakibatkan pertumpahan darah.  Hal inilah yang membuat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia mulai terpecah. Betapa besar pengorbanan dan perjuangan para pahlawan untuk membuat negara ini bebas dari bangsa penjajah, tetapi pada akhirnya seperti inilah yang terjadi, rakyat Indonesia sendiri yang menjajah bangsanya. Kericuhan dan keributan dimana-mana, bentrok antardesa dan juga tawuran antarpelajar sering terjadi. Seorang pelajar seharusnya menjadi generasi muda berbakat yang akan menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang maju, generasi muda seharusnya menjadi generasi penerus yang menciptakan kedamaian dan ketentraman di negaranya serta generasi muda yang mampu membangkitkan semangat patriotisme, dan memberikan ide-ide cemerlang untuk membangkitkan Indonesia dari kesenjangan sosial. Generasi muda merupakan jembatan untuk mencapai perdamaian dunia.
Bali memiliki sebuah konsep keselarasan dalam kehidupan yang disebut dengan Tri Hita Karana. Dengan adanya konsep ini kita tahu bahwa kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan memiliki banyak hubungan yang dapat menguntungkan satu sama lain. Mengapa kita tidak memanfaatkannya sebagai sarana merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa terutama dalam hubungan manusia dengan sesama manusia. Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak lepas dari saling membutuhkan satu sama lain, tidak ada manusia yang sanggup untuk hidup sendiri. Kini kita tahu bahwa hubungan baik sesama manusia merupakan salah satu sarana untuk memiliki rasa kesetiakawanan. Kalau kita tidak memiliki hubungan dengan sesama manusia tidak akan tercipta yang namanya ‘teman’ dan tidak pula tercipta solidaritas. Solidaritas harus dimulai dengan kesediaan kita untuk memasang mata, telinga dan mulut terhadap wajah remuk, jeritan, dan suara senyap orang yang membutuhkan bantuan. Kita harus menyadarkan masyarakat akan pentingnya rasa solidaritas sesama manusia.
Rasa kesetiakawanan yang baik haruslah ditanamkan sejak usia dini, itu semua demi mencegah kesetiakawanan yang negatif mengambil alih hati nurani dan kesadaran diri untuk saling tolong menolong. Menanamkan kesetiakawanan dapat dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, teman sepermainan dan juga masyarakat. Diharapkan dengan ditanamkannya rasa setiakawan sejak dini akan mampu menumbuhkan jiwa patriotisme, nasionalime dan juga semangat perjuangan yang tinggi seperti saat perjuangan para pahlawan untuk menciptakan kemerdekaan, demi terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa yang utuh. Kesetiakawanan merupakan sarana yang tepat untuk merekatkan kesatuan bangsa yang kini sudah mulai menghilang. Jadi, dengan adanya kesetiakawanan sosial yang tumbuh pada diri masing-masing orang akan membuat bangsa kita menjadi bangsa yang kuat dan juga bangsa yang maju.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar