Senin, 10 Maret 2014

Love is Choise (chapter 1) - created by Wahyunie


    Emang susah rasanya untuk memilih. Pilihan! Itu yang selalu ada dibenak setiap orang dimanapun mereka berada. Dalam hidup ini selalu ada saja yang harus kita pilih, dan pilihan yang diambil itu entah akan menjadi hal yang baik, atau bahkan bisa pula menjadi hal yang buruk. Rere adalah salah satu orang yang mempunyai sifat tidak suka memilih, bahkan apabila dia ingin mungkin di depan kamar, di baju, di tas, dan dimanapun dia akan memasang label “ANTI MEMILIH”, tapi sayangnya Rere males banget kalo ditanyain kenapa norak banget pake acara masang label segala, nggak afdol dong. Rere, atau lengkapnya Renata Anjani. Gadis yang bahkan bisa disebut anak dari kalangan yang berada, tetapi untuk memilih sesuatu susah banget. Bisa dibayangkan, kalau dia harus menentukan model sepatu yang akan dia kenakan pasti akan ribet setengah mati. Maka dari itu ia selalu memakai barang yang pertama dilihatnya. Begitupula dengan cowok, Rere telah suka pada Andre saat pertama melihatnya, maka dari itu cowok manapun yang mendekati Rere akan ditolaknya mentah-mentah,biar cowok-cowok itu nggak ganggu dia lagi. Tetapi semua itu tak berlaku bagi Nicky, kakak kelas Rere yang penuh dengan semangat yang berapi-api alias pantang menyerah gitu, akan mempertahankan cintanya pada Rere, hanya saja Nicky selalu memberikan perhatiannya diam-diam, karena takut Rere malah jadi makin ill feel sama Nicky. Ya... tapi seperti biasa, apapun yang dilakukan Nicky untuk Rere akan ditolaknya mentah-mentah. Tetapi Nicky bukanlah orang yang pantang menyerah, sehinggga sedikit demi sedikit meluluhkan hati Rere. Tetapi Rere yang menjunjung tinggi tekadnya untuk tidak memilih,yang katanya kalo milih-milih malah nyesel itu, sehingga diinjaknya perasaan suka pada Nicky dan lebih mengutamakan Andre.
            “Re... lo nggak keterlaluan sama kak Nicq? Dia udah berjuang mati-matian demi narik perhatian lo, ampe dia Cuma bisa merhatiin lo dari jauh gitu,tapi elo sama sekali nggak ngerespon. Inget lo Re, kesabaran itu ada batasnya. Setidaknya lo kasi kek kesempatan dikit buat kak Nicq!” oceh Omi mati-matian dukung Nicky yang setengah mati berkorban.
Yang di ajak ngomong cuma mangap-mangap plus ngelirik nggak nafsu lalu berkata,
            “Tau gue kan neng, gue ngga mau milih-milih, apalagi milih antara Andre ato Nicky, Andre ya Andre aja. Males banget milih-milih” sewot Rere.
Omi yang udah capek nasehatin Rere lebih memilih untuk diam dan mengalah. Ia tahu pasti, apabila obrolan itu diperpanjang,Rere bakal mogok bicara pada Omi.
                                                                            ----------
      Suasana rumah Rere yang biasanya tenang, hari ini jadi ribut banget. Kata mama nya, ada tetangga baru di sebelah rumahnya, makanya jadi ribut bukan main. Ada yang teriak-teriak bilang ‘kiri kiri, kanan kanan’, dalam hati Rere sempat ngedumel, kayak tukang parkir banget. Tetapi kayaknya suara ribut-ribut diseberang sana nggak mengganggu acara tidur siang Rere. Terbukti dari cara tidur Rere yang bisa dibilang kayak Kebo, asli mirip. Mulutnya tak henti-hentinya mangap mingkem kayak kebo makan, terus acara garuk-garuk kayak monyet. Tapi entah mengapa itu sama sekali tidak mengurangi kecantikan Rere, malah mungkin jadi tambah lucu.
Sore hari, Rere yang bosan dirumah lebih memilih untuk berjalan-jalan bersama Jolie anjingnya. Ia mengitari taman dan beristirahat di sebuah bangku tepat dibawah pohon. Mungkin ia duduk terlalu lama sehingga ia merasa bosan dan memutuskan untuk pulang. Tetapi ditengah perjalanan ia melihat sosok penjual es krim langgananya. Rere segera berlari menuju tempat itu. Setelah mengambil es krimnya dan tak lupa memberikan beberapa lembar uang dua ribuan, seorang cowok yang tak asing baginya,terlihat sedang memakai jaket parasut berwarna putih biru dan sepertinya pemuda itu baru saja berolahraga, karena dilihat dari keringatnya yang bercucuran. Melihat siapa cowok itu, Rere kalap dan terkejut.
“Nicky!” dengan nada tak percaya, Rere membelalakkan matanya.
            “Rere!” dengan tatapan sama ia melihat Rere.
            “Ngapain lo disini?” kata mereka berbarengan.
            “Gue ngajak Jolie jalan-jalan” kata Rere sambil menujuk anjingnya.
            “Gue habis lari nih muter-muterin taman” kata Nicky dengan senyum khas nya yang terukir diwajah cakep Nicky, dan sanggup membuat Rere sedikit salah tingkah.
            “Rumah lo disekitar sini?” tanya Rere sambil memakan es krimnya, dan Nicky hanya mengangguk pelan.
            “Oh... ya udah gue duluan ya” kata Rere mengakhiri percakapan mereka dan beranjak pergi.
Diperjalanan Rere masih bingung, bagaimana bisa rumah Nicky disekitar sini, Rere yang sering lewat sini aja nggak pernah sekalipun melihat Nicky. Berbagai pertanyaan yang berkelebat di kepala Rere segera di hapusnya,dan berusaha tidak memikirkan kejadian aneh itu.
                                                                             ----------
Waktu telah menunjukkan pukul 07.00, menurut mama Rere akan ada tamu yang datang untuk makan malam bersama.
“Siapa sih tamunya, ampe harus dandan gini!” gerutu Rere setelah terakhir  sedikit memulaskan lipgloss di bibirnya ia segera turun menuju ruang makan. Dress ungu selutut yang dikenakan Rere semakin membuat Rere terlihat tinggi, ditambah lagi alas kaki berwarna ungu dengan tali yang terikat dan menghiasi pergelangan kakinya serta hak 6 cm yang membuat kakinya terlihat indah.
Tamu undangan makan malam telah hadir dan duduk di halaman belakang yang disulap bak dinner romantis kebanyakan. Mama dan Papa Rere emang pasangan suami istri yang suka banget dekorasi yang unik dan romantis. Nggak salah kalo rumah Rere arsitekturnya emang keren banget.
Keluarga Rere segera menyapa tamu di hadapannya.
“ Apa kabar ni bung Anton? Sudah lama kita tak bertemu” Seru papa Rere senang.
“Baik-baik saja! Siapa ini?” kata Om Anton sambil tersenyum kepada Rere.
“Ini Rere! Anak semata wayang kami, yang dulu pernah aku ceritakan kepada mu” kata papa Rere lalu mulai berbisik-bisik pada Om Anton dan tertawa-tawa. Sungguh itu membuat Rere risih.
“Oh ya! Hmm...ini anak kedua saya Nancy, Nicq kakaknya belum datang. Mungkin nanti dia menyusul”
Nama Nicq membuat jantung Rere berdetak cepat ‘mungkin hanya kebetulan namanya sama’ batin Rere.
Dengan tidak banyak bicara lagi, kami semua mengobrol dan tertawa sembari menikmati hidangan pembuka. Handphone yang sedari tadi berada di tangannya berdering dengan nyaring. Setelah meminta ijin untuk mengangkat telpon ia segera menuju halaman depan dan mengangkat handphone miliknya.
            “Halo Rere!” Teriak Omi dari seberang sana. Sesegera mungkin ia menjauhkan handphonenya dari telinga.
            “Apaan sih! Pake teriak-teriak segala” bentak Rere.
Sesampainya di halaman depan ia dengan cepat langsung duduk di bangku taman tanpa melihat-lihat apakah ada orang yang mengikutinya. Lama ia menelpon, sesekali ia memandang halaman didepannya. Tak sengaja pandangan itu terarah ke sisi kirinya, hampir saja ia melepaskan handphone yang sedang nyaman bertengger ditelinganya dan dengan hangat digenggam pemiliknya. Karena kaget disertai berteriak bagai ngeliat setan Rere langsung saja mematikan handphonenya.
            “Nga..nga..ngapain lo kesini?” tanya Rere yang masih kaget dengan terbata-bata.
            “Di undang makan! Lo ngapain disini?” masih dengan tampang polos si cowok bertanya.
            “Ini rumah gue!”
Nicky spontan membelalakkan matanya. “Apa?!”
Setelah berhasil mengontrol emosinya akibat terkejut tadi, Rere kembali bertanya kepada Nicky.
“Oh... elo toh yang dibilang anak sulung Om Anton yang disebut-sebut Nicq itu, gue kira cuma kebetulan namanya doang yang sama”
“Iya itu nama kecil gue”
“Ohhhhh kenapa lo diluar, nggak langsung masuk aja?”
“Gue baru aja habis ngangkat telpon tadi, pas elo dateng gue baru selesai nelpon. Tadinya gue mau nyapa tapi kayaknya lo serius banget,makanya nggak jadi, lah elo baru ngeliat gue udah kayak ngeliat setan,teriak-teriak gitu, kalo di denger tetangga gue bisa disangka ngapa-ngapain elo” kata Nicky masing dengan nada biasa, padahal hatinya, dag dig dug bahagia ngeliat cewek yang disukain duduk di sampingnya dengan penampilan super cantik.
“Iya-iya maaf, hh..ya udah, ayo masuk, yang lain udah nunggu.” Kata Rere akhirnya.
Mereka berjalan beriringan menuju halaman belakang. Keluarga mereka yang melihatnya lalu sedikit berbisik dan tertawa.
            “Tuh kan apa saya bilang!cocok!” bisik mereka bergantian. Jelas saja Nicky dan Rere tidak mendengar pembicaraan itu.
            “ Ini lo Re...” kata ayah setelah mereka duduk berdampingan.
            “Nak Nicky ini, anak teman papa dulu waktu semasa SMA, teman papa itu ya Om Anton Ini, dan kebetulan mereka sekarang jadi tetangga kita!”
Rere benar-benar kaget mendengar perkataan papanya.’jadi ini tetangga baruku?’ batin Rere.
                                                                             ----------
 
         Selesai acara makan malam itu, keluarga Nicky segera pamit pulang. Kecuali Nicky. Ya..... Om Anton menyuruh Nicky untuk membantu membersihkan semua itu, baru dia boleh pulang. Nicky sih nggak keberatan secara bantuin cewek yang udah lama di taksirnya, ditambah lagi jadi tetangga baru, makin seneng deh. Nicky segera merapikan piring-piring dan menumpuknya. Rere segera mengangkat piring-piring dan membawanya ke dapur. Tetapi kini Rere salah perkiraan saat berjalan menggunakan high heel, sehingga Rere tersandung dan mematahkan haknya. Dengan gerakan cepat, Nicky segera menangkapnya dan menyelamatkan piring-piringnya.
            “Untung piringnya nggak pecah, kalo mau beres-beres lepasin dulu alas kaki lo, dan....” kata Nicky sambil sedikit merintih dan melanjutkan omongannya “...... hak sendal lo nginjek kaki gue”
Sesegera mungkin Rere berdiri tegak dan melepaskan tubuhnya dari Nicky.
            “Ma..maaf! ya udah gue mau lanjutin beres-beres”

Bersambung.... (Love is Choise chapter 2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar