Emang susah
rasanya untuk memilih. Pilihan! Itu yang selalu ada dibenak setiap orang
dimanapun mereka berada. Dalam hidup ini selalu ada saja yang harus kita pilih,
dan pilihan yang diambil itu entah akan menjadi hal yang baik, atau bahkan bisa
pula menjadi hal yang buruk. Rere adalah salah satu orang yang mempunyai
sifat tidak suka memilih, bahkan apabila dia ingin mungkin di depan kamar, di
baju, di tas, dan dimanapun dia akan memasang label “ANTI MEMILIH”, tapi
sayangnya Rere males banget kalo ditanyain kenapa norak banget pake acara
masang label segala, nggak afdol dong. Rere, atau lengkapnya Renata Anjani.
Gadis yang bahkan bisa disebut anak dari kalangan yang berada, tetapi untuk
memilih sesuatu susah banget. Bisa dibayangkan, kalau dia harus menentukan
model sepatu yang akan dia kenakan pasti akan ribet setengah mati. Maka dari
itu ia selalu memakai barang yang pertama dilihatnya. Begitupula dengan cowok,
Rere telah suka pada Andre saat pertama melihatnya, maka dari itu cowok manapun
yang mendekati Rere akan ditolaknya mentah-mentah,biar cowok-cowok itu nggak
ganggu dia lagi. Tetapi semua itu tak berlaku bagi Nicky, kakak kelas Rere yang
penuh dengan semangat yang berapi-api alias pantang menyerah gitu, akan
mempertahankan cintanya pada Rere, hanya saja Nicky selalu memberikan
perhatiannya diam-diam, karena takut Rere malah jadi makin ill feel sama Nicky.
Ya... tapi seperti biasa, apapun yang dilakukan Nicky untuk Rere akan
ditolaknya mentah-mentah. Tetapi Nicky bukanlah orang yang pantang menyerah,
sehinggga sedikit demi sedikit meluluhkan hati Rere. Tetapi Rere yang
menjunjung tinggi tekadnya untuk tidak memilih,yang katanya kalo milih-milih
malah nyesel itu, sehingga diinjaknya perasaan suka pada Nicky dan lebih
mengutamakan Andre.
“Re... lo nggak keterlaluan sama kak
Nicq? Dia udah berjuang mati-matian demi narik perhatian lo, ampe dia Cuma bisa
merhatiin lo dari jauh gitu,tapi elo sama sekali nggak ngerespon. Inget lo Re,
kesabaran itu ada batasnya. Setidaknya lo kasi kek kesempatan dikit buat kak Nicq!”
oceh Omi mati-matian dukung Nicky yang setengah mati berkorban.
Yang
di ajak ngomong cuma mangap-mangap plus ngelirik nggak nafsu lalu berkata,
“Tau gue kan neng, gue ngga mau
milih-milih, apalagi milih antara Andre ato Nicky, Andre ya Andre aja. Males
banget milih-milih” sewot Rere.
Omi
yang udah capek nasehatin Rere lebih memilih untuk diam dan mengalah. Ia tahu
pasti, apabila obrolan itu diperpanjang,Rere bakal mogok bicara pada Omi.
----------
Suasana
rumah Rere yang biasanya tenang, hari ini jadi ribut banget. Kata mama nya, ada
tetangga baru di sebelah rumahnya, makanya jadi ribut bukan main. Ada yang
teriak-teriak bilang ‘kiri kiri, kanan kanan’, dalam hati Rere sempat ngedumel,
kayak tukang parkir banget. Tetapi kayaknya suara ribut-ribut diseberang sana
nggak mengganggu acara tidur siang Rere. Terbukti dari cara tidur Rere yang
bisa dibilang kayak Kebo, asli mirip. Mulutnya tak henti-hentinya mangap
mingkem kayak kebo makan, terus acara garuk-garuk kayak monyet. Tapi entah
mengapa itu sama sekali tidak mengurangi kecantikan Rere, malah mungkin jadi
tambah lucu.
Sore hari, Rere yang bosan dirumah lebih memilih untuk
berjalan-jalan bersama Jolie anjingnya. Ia mengitari taman dan beristirahat di
sebuah bangku tepat dibawah pohon. Mungkin ia duduk terlalu lama sehingga ia
merasa bosan dan memutuskan untuk pulang. Tetapi ditengah perjalanan ia melihat
sosok penjual es krim langgananya. Rere segera berlari menuju tempat itu.
Setelah mengambil es krimnya dan tak lupa memberikan beberapa lembar uang dua
ribuan, seorang cowok yang tak asing baginya,terlihat sedang memakai jaket
parasut berwarna putih biru dan sepertinya pemuda itu baru saja berolahraga,
karena dilihat dari keringatnya yang bercucuran. Melihat siapa cowok itu, Rere
kalap dan terkejut.
“Nicky!” dengan nada tak percaya, Rere membelalakkan matanya.
“Rere!”
dengan tatapan sama ia melihat Rere.
“Ngapain lo disini?” kata mereka
berbarengan.
“Gue ngajak Jolie jalan-jalan” kata
Rere sambil menujuk anjingnya.
“Gue habis lari nih muter-muterin
taman” kata Nicky dengan senyum khas nya yang terukir diwajah cakep Nicky, dan
sanggup membuat Rere sedikit salah tingkah.
“Rumah lo disekitar sini?” tanya
Rere sambil memakan es krimnya, dan Nicky hanya mengangguk pelan.
“Oh... ya udah gue duluan ya” kata
Rere mengakhiri percakapan mereka dan beranjak pergi.
Diperjalanan
Rere masih bingung, bagaimana bisa rumah Nicky disekitar sini, Rere yang sering
lewat sini aja nggak pernah sekalipun melihat Nicky. Berbagai pertanyaan yang
berkelebat di kepala Rere segera di hapusnya,dan berusaha tidak memikirkan
kejadian aneh itu.
----------
Waktu telah menunjukkan pukul 07.00, menurut mama Rere akan ada
tamu yang datang untuk makan malam bersama.
“Siapa sih tamunya, ampe harus dandan gini!” gerutu Rere setelah
terakhir sedikit memulaskan lipgloss di
bibirnya ia segera turun menuju ruang makan. Dress ungu selutut yang dikenakan
Rere semakin membuat Rere terlihat tinggi, ditambah lagi alas kaki berwarna
ungu dengan tali yang terikat dan menghiasi pergelangan kakinya serta hak 6 cm
yang membuat kakinya terlihat indah.
Tamu undangan makan malam telah hadir dan duduk di halaman
belakang yang disulap bak dinner romantis kebanyakan. Mama dan Papa Rere emang
pasangan suami istri yang suka banget dekorasi yang unik dan romantis. Nggak
salah kalo rumah Rere arsitekturnya emang keren banget.
Keluarga Rere segera menyapa tamu di hadapannya.
“ Apa kabar ni bung Anton? Sudah lama kita tak bertemu” Seru papa
Rere senang.
“Baik-baik saja! Siapa ini?” kata Om Anton sambil tersenyum kepada
Rere.
“Ini Rere! Anak semata wayang kami, yang dulu pernah aku ceritakan
kepada mu” kata papa Rere lalu mulai berbisik-bisik pada Om Anton dan
tertawa-tawa. Sungguh itu membuat Rere risih.
“Oh ya! Hmm...ini anak kedua saya Nancy, Nicq kakaknya belum
datang. Mungkin nanti dia menyusul”
Nama
Nicq membuat jantung Rere berdetak cepat ‘mungkin hanya kebetulan namanya sama’
batin Rere.
Dengan
tidak banyak bicara lagi, kami semua mengobrol dan tertawa sembari menikmati
hidangan pembuka. Handphone yang sedari tadi berada di tangannya berdering dengan
nyaring. Setelah meminta ijin untuk mengangkat telpon ia segera menuju halaman
depan dan mengangkat handphone miliknya.
“Halo Rere!” Teriak Omi dari
seberang sana. Sesegera mungkin ia menjauhkan handphonenya dari telinga.
“Apaan sih! Pake teriak-teriak
segala” bentak Rere.
Sesampainya
di halaman depan ia dengan cepat langsung duduk di bangku taman tanpa
melihat-lihat apakah ada orang yang mengikutinya. Lama ia menelpon, sesekali ia
memandang halaman didepannya. Tak sengaja pandangan itu terarah ke sisi
kirinya, hampir saja ia melepaskan handphone yang sedang nyaman bertengger
ditelinganya dan dengan hangat digenggam pemiliknya. Karena kaget disertai
berteriak bagai ngeliat setan Rere langsung saja mematikan handphonenya.
“Nga..nga..ngapain lo kesini?” tanya
Rere yang masih kaget dengan terbata-bata.
“Di undang makan! Lo ngapain
disini?” masih dengan tampang polos si cowok bertanya.
“Ini rumah gue!”
Nicky
spontan membelalakkan matanya. “Apa?!”
Setelah berhasil mengontrol emosinya akibat terkejut tadi, Rere
kembali bertanya kepada Nicky.
“Oh... elo toh yang dibilang anak sulung Om Anton yang disebut-sebut
Nicq itu, gue kira cuma kebetulan namanya doang yang sama”
“Iya itu nama kecil gue”
“Ohhhhh kenapa lo diluar, nggak langsung masuk aja?”
“Gue baru aja habis ngangkat telpon tadi, pas elo dateng gue baru
selesai nelpon. Tadinya gue mau nyapa tapi kayaknya lo serius banget,makanya
nggak jadi, lah elo baru ngeliat gue udah kayak ngeliat setan,teriak-teriak
gitu, kalo di denger tetangga gue bisa disangka ngapa-ngapain elo” kata Nicky
masing dengan nada biasa, padahal hatinya, dag dig dug bahagia ngeliat cewek
yang disukain duduk di sampingnya dengan penampilan super cantik.
“Iya-iya maaf, hh..ya udah, ayo masuk, yang lain udah nunggu.”
Kata Rere akhirnya.
Mereka
berjalan beriringan menuju halaman belakang. Keluarga mereka yang melihatnya
lalu sedikit berbisik dan tertawa.
“Tuh kan apa saya bilang!cocok!”
bisik mereka bergantian. Jelas saja Nicky dan Rere tidak mendengar pembicaraan
itu.
“ Ini lo Re...” kata ayah setelah
mereka duduk berdampingan.
“Nak Nicky ini, anak teman papa dulu
waktu semasa SMA, teman papa itu ya Om Anton Ini, dan kebetulan mereka sekarang
jadi tetangga kita!”
Rere
benar-benar kaget mendengar perkataan papanya.’jadi ini tetangga baruku?’ batin
Rere.
----------
Selesai
acara makan malam itu, keluarga Nicky segera pamit pulang. Kecuali Nicky. Ya..... Om Anton menyuruh Nicky untuk membantu
membersihkan semua itu, baru dia boleh pulang. Nicky sih nggak keberatan secara
bantuin cewek yang udah lama di taksirnya, ditambah lagi jadi tetangga baru,
makin seneng deh. Nicky segera merapikan piring-piring dan menumpuknya. Rere
segera mengangkat piring-piring dan membawanya ke dapur. Tetapi kini Rere salah
perkiraan saat berjalan menggunakan high heel, sehingga Rere tersandung dan
mematahkan haknya. Dengan gerakan cepat, Nicky segera menangkapnya dan
menyelamatkan piring-piringnya.
“Untung piringnya nggak pecah, kalo
mau beres-beres lepasin dulu alas kaki lo, dan....” kata Nicky sambil sedikit
merintih dan melanjutkan omongannya “...... hak sendal lo nginjek kaki gue”
Sesegera
mungkin Rere berdiri tegak dan melepaskan tubuhnya dari Nicky.
“Ma..maaf! ya udah gue mau lanjutin
beres-beres”
Bersambung.... (Love is Choise chapter 2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar